Halaman

Jumat, Juli 04, 2014

the Hardest Raid - Part 1B [RiFy]



“Eh, iya? Ada apa pak?”
                “Mengapa kamu malam-malam keluyuran disini?” Polisi! Alyssa benar-bena takut jika harus berurusan dengan polisi.
                “Ng… anu pak.”
                “Hey! Saya kenal kamu. Kamu Alyssa Umari kan? Anak semata wayang dari Kiki Umari.”
                “Eh, iya pak”
                “Apa kamu tahu? Mayat yang kami temukan di danau pagi ini adalah jenazah sahabat ayahmu, Riko Haling.”
                “Je… jenazah pak?”, Alyssa pura-pura tidak tahu.
                “Ya, kami menemukan jenazah pak Riko di dalam danau. Ada yang menelfon ke kantor polisi tadi, katanya ia mendengar suara tembakan dan melihat beberapa orang melemparkan mayat ke danau”
                “Ke danau? Apa itu benar-benar pak Riko?”, Alyssa berakting dengan wajah kaget dan tidak percaya.
                “Iya. Pak Riko teman ayahmu… Hey! Kenapa kamu berada disini sepagi ini? Ini masih gelap. Pembunuh bisa saja berkeliaran di sekitar sini. Bisa saja kau jadi sasarannya. Beberapa pekan ini, teman-teman ayahmu yang menjadi korban.”
                “Ah, aku hanya mencari udara segar pak”, Alyssa tersenyum kaku. Polisi ini mulai curiga.
                “Apa kau mendengar suara tembakan beberapa saat lalu?”
                “Tidak. Aku tidak tahu.”               
                “Kami menemukan dua luka tembak di kepala dan jantung pak Riko.”
                “Setega itukah pembunuh itu?”
                “Ya, kau harus hati-hati nak. Peringatkan ayahmu, bisa saja para pembunuh itu juga mengicar ayahmu!”
                “Oh, ehm… Baiklah. Aku akan memperingatkan ayahku, juga mungkin harus segera memberitahunya kabar duka ini. Saya… saya permisi dulu pak”, Alyssa sedikit merunduk kemudian melangkah pergi.
                Polisi itu menahan bahu Alyssa. Alyssa menoleh dengan jantung berdebar kencang.
                “Hati-hati nak! Jangan pergi ke tempat yang sepi, apalagi saat gelap seperti ini. Ayahmu dan seluruh jaringannya sepertinya dalam bahaya.”
                “Ba… baik pak”
                “Apa kau yakin tidak mendengar suara tembakan?”, Polisi itu mulai menginterogasi kembali. Alyssa semakin berdebar, ia tak ingin menjadi saksi di kantor polisi. Ia takut pada polisi. Apalagi seorang polisi lainnya mendatangi mereka.
                “Hey bung! Sedang apa kau disini bersama gadis ini?”, polisi yang baru dating menepuk pundak temannya.
                “Tidak apa. Aku hanya bertanya pada gadis ini, kalau-kalau ia tahu akan kejadian itu.”
                “Hey, tentu saja! Aku melihatmu di perempatan berjalan menuju taman sekitar pukul 2 tadi nona. Pasti kau sudah disini sejak tadi. Apa yang kau lakukan disini?”
                “Aku….. hanya mencari udara segar. Dan aku….. tidak tahu apa-apa tentang pembunuhan itu. Benar.”
                “Ya. Kau berada dimana tadi? Sangat mustahil jika di taman ini dan kau tidak mendengar suara tembakan.”
                “Eum, aku tadi tertidur di bangku sebelah sana”, Alyssa menunjuk bangku yang lumayan jauh dari tempat mereka berdiri. “
                “Kau benar-benar tidak mendengarnya?”, Polisi yang pertama datang –si gendut-, bertanya lagi.
                “Ya, aku tertidur pulas tadi. Aku memang sering tertidur di taman ini. Aku sering kesini malam hari.”
                “Ya, baiklah kalau kau memang tidak mendengarnya. Sepertinya kau harus mengubah kebiasaanmu itu nak, pembunuh berkeliaran di mana-mana”, Polisi kedua yang lebih tinggi dari polisi itu menasehati sambil membenahi letak sabuknya.
                “Ya tentu saja. Aku akan mengingat itu. Baiklah, aku harus segera pergi untuk memeberi tahu ayahku berita ini. Permisi”
                “Ya, hati-hati nak!”
Kedua polisi itu berpandangan sejenak. Kemudian meninggalkan Alyssa kembali ke TKP. Alyssa menghela nafas sejenak, kemudian melangkahkan kaki. Pulang. Malamnya sungguh berat.
***
Alyssa sampai di pintu gerbang rumahnya yang megah, jam di tangannya menunjukan pukul 4 pagi tapi seluruh ruangan di rumahnya sudah terang benderang. Pasti berita ditemukannya jenazah Riko sudah sampai di keluarga Umari.
Alyssa mengetuk pintu kecil di gerbang rumahnya pelan dua kali. -Kode rahasia pada pak Ratno-.

Tok!  tok!
Satpam rumah megah itu langsung membuka pintu bagi anak gadis majikannya ini. Wajahnya terlihat sayu dan ketakutan.
“Aduh non, kenapa nggak segera balik sih? Tumben lama sekali, katanya cuma jalan-jalan. Orang rumah sudah pada bangun semua, dan sepertinya sedang mencari non Alyssa.”, Satpam itu menunjukan wajah ketakutan yang amat sangat. Alyssa tersenyum.
“Tenang aja pak. Pak Ratno bakal selamat kok. Serahin semua ke saya. Oke?”, Alyssa mengedip ke pak Ratno.
“Iya non, tapi kalau ketahuan saya bisa dipecat. Bisa ditebas juga leher saya non”
“Tenang aja pak”
“Eh non, non Alyssa sudah tahu belum kalau pak Rik…”
“Saya sudah tahu pak. Saya tadi habis dari Danau Taman Edelweis kok”
“Aduh non, non ngapain main kesana? Bahaya non, kalau malam disana kan sepi non”, wajah satpam itu semakin pucat ketakutan setelah tahu apa yang dilakukan majikannya ini di luar.
“Pak, tenang aja. Kalau bapak rebut, kita nanti malah ketahuan. Sudah ah, saya masuk dulu pak”, Alyssa meninggalkan satpam yang sekarang wajahnya sudah benar-benar pucat pasi itu.
***
Alyssa mengendap ke taman belakang rumahnya, kemudian masuk melalui pintu dapur.
“Alyssa! Kamu darimana?”
Sial! Mama ada di dapur tempat Alyssa mengendap masuk. Alyssa berhenti setelah menutup pintu, mencoba memasang ekspresi yang biasa-biasa saja.
“Dari taman belakang ma. Cari udara segar, eh malah ketiduran di bangku taman. Habis tadi Lyssa gabisa tidur di kamar”, Alyssa menggigit bibir bawahnya. Menunjukan ekspresi bersalah. Sedang sang mama hanya geleng-geleng saja.
“Lyss, kamu siap-siap gih! Kita harus segera berangkat ke rumah keluarga Haling. Om Riko meninggal dunia tadi pagi.”
Alyssa sudah tidak terkejut lagi tapi ia menunjukan wajah terkejut dan sedih kepada mamanya.
“Apa ma? Om Riko……” Alyssa menggantungkan kalimatnya, dan menggerak-gerakan tangannya di udara.
“Iya, om Riko ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam danau Edelweis. Katanya ada seorang wanita yang menelpon ke kantor polisi melaporkan kejadian itu. Saat dilacak, ternyata ia menggunakan telepon umum. Om Riko meninggal dengan dua luka tembak, kemudian dilemparkan ke dalam danau. Sungguh tega sekali orang-orang itu.”, Sang mama menerawang jauh.
Alyssa sudah tahu itu semua,  bahkan Alyssa yang benar-benar tahu semua kejadian itu. Tapi ia terlalu takut untuk mengatakan kepada orang lain. Ia takut berurusan dengan polisi. Ia takut jika ia menjadi saksi, penjahat itu akan memburunya. Ia takut menjadi tertuduh, seperti yang dilakukan Rio tadi. Ia takut, jika ia sibuk menjadi saksi ia tidak akan bisa mengingatkan dan menjaga ayahnya. Alyssa benar-benar bingung saat ini. Tidak seharusnya dia pergi keluar malam-malam seperti tadi. Seharusnya dia tahu itu. Bahaya yang mengancam di malam hari lebih besar, apalagi dia adalah pewaris satu-satunya asset kekayaan keluarga Umari. Tapi ia juga lelah berpura-pura, sepetang ini saja sudah beberapa orang yang ia bohongi. Apalagi perasaan bersalahnya pada Rio. Membingungkan.
“Ehm, papa dimana ma?”
“Papa kamu ada di kamar, mama tidak tega melihatnya seperti itu. Pekan lalu,  seorang rekan kerjasamanya terbunuh. Pekan ini, sudah 2 lainnya. Dan hari ini sahabat terdekatnya ditemukan tewas di danau. Dari 5 orang dalam kerjasama besar itu, tinggal ayah kamu yang masih hidup. Itu semua menimbulkan kecurigaan orang-orang terhadap ayah kamu.”
“Eum, Lyssa mau temuin papa dulu”, Lyssa melesat meninggalkan mamanya di dapur.
***
Krieett…
Alyssa membuka pintu kamar orangtuanya. Ayahnya duduk termangu di pinggiran dipan. Kepalanya beliau tundukan, dengan kedua tangan disatukan di antara kedua lutut. Penampilannya sudah acak-acakan.
“Pa…..”, Alyssa berjalan mendekat kepada sang ayah.
Ayahnya bergeming. Alyssa duduk menekuk lutut di depan ayahnya. Menatap sang ayah prihatin. Digenggamnya tangan sang ayah erat.
“Lyssa… Jika papa pergi meninggalkan dunia ini, apa kamu sudah siap meneruskan perusahaan papa?”, Tenggorokan Alyssa  serasa tercekat.
“Mak…. Sud papa?”
“Iya Lyss, sepertinya papa akan menjadi korban selanjutnya. Itu lebih baik bukan daripada papa dituduh sebagai dalang pembunuhan teman-teman papa?”
“Nggak, papa nggak boleh ngomong begitu!”, Lyssa menggeleng, ia mulai menangis.
 “Pa… Dengerin aku. Lyssa lihat semuanya pa. Lyssa… Lyssa lihat pembunuhan itu! Lyssa melihat 3 orang menembak om Riko dan membuangnya ke danau. Lyssa lihat pa! Tapi Lyssa nggak bisa apa-apa karena Lyssa terlalu takut. Lyssa nggak mau kehilangan papa, makanya Lyssa kesini untuk bilang sama papa bahwa orang itu mengincar papa. Lyssa pengen menyelamatkan papa, masa papa nggak mau menyelamatkan nyawa papa sendiri?!”, Alyssa melepas genggaman tangannya. Menatap sang papa tajam.
“Papa hari ini jangan pergi ke rumah om Riko. Bisa saja para penjahat itu ada disana. Lebih baik papa siapkan koper papa. Kita harus sembunyi, Lyssa yang akan beresin semua ini. Papa jangan sampai keluar dari rumah, sebelum Lyssa ajak papa keluar! Lyssa akan suruh para penjaga menjaga kamar papa.”
“Kamu mau apa Lyss? Sudah, jangan macam-macam. Ini terlalu berbahaya buat kamu.!”, Kiki akhirnya angkat bicara. Terlalu bahaya bagi Lyssa untuk menghadapi para penjahat itu. Nyatanya bodyguard dari keempat temannya saja kewalahan.
“Buat apa papa punya bodyguard banyak tapi papa takut sama para pembunuh itu?”, Lyssa berdiri dan meninggalkan ayahnya. Ia berhenti sebentar sebelum menutup pintu.
“Lyssa mau menemui Mr. Adit untuk meningkatkan keamanan papa. Papa nggak perlu khawatir, Lyssa udah gede, udah bisa jaga diri. Lyssa janji nggak akan nyia-nyiain nyawa sendiri. Papa juga harus janji untuk menyelamatkan nyawa papa sendiri.”
Brak!
“Papa tidak bisa berjanji Lyssa, mereka terlalu menakutkan untuk papa”, Kiki semakin tertunduk.
Ia terlalu takut pada musuhnya kali ini. Mereka sudah benar-benar terorganisir, tidak seperti penyerangnya yang sebelumnya. Sudah banyak yang gagal menyerang ia dan perusahaannya, tapi tidak kali ini. 4 dari 5 orang anggota kerjasama dari 5 orang pemimpin perusahaan besar sudah gugur. Ia tahu, orang ini mengincar seluruh perusahaan  yang terikat ini. Dan bisa dipastikan ia akan menjadi sasaran selanjutnya.
Riko adalah teman sekaligus semangatnya selama ini. Mereka selalu bersama dan selalu bekerjasama. Kehilangan Riko benar-benar membuat hidup seorang Kiki Umari terpuruk, belum sempat ia melihat jenazah sahabatnya saja mentalnya sudah benar-benar dijatuhkan. Ia benar-benar tidak memiliki semangat lagi.
“Riko, aku harus memenuhi janjiku padamu  sebelum aku pergi. Jika aku mati sebelum aku memenuhi janjiku padamu, aku tidak akan pernah benar-benar pergi dengan tenang.”


Tidak ada komentar: