“Eh, iya? Ada apa pak?”
“Mengapa
kamu malam-malam keluyuran disini?” Polisi! Alyssa benar-bena takut jika harus
berurusan dengan polisi.
“Ng…
anu pak.”
“Hey!
Saya kenal kamu. Kamu Alyssa Umari kan? Anak semata wayang dari Kiki Umari.”
“Eh,
iya pak”
“Apa
kamu tahu? Mayat yang kami temukan di danau pagi ini adalah jenazah sahabat
ayahmu, Riko Haling.”
“Je…
jenazah pak?”, Alyssa pura-pura tidak tahu.
“Ya,
kami menemukan jenazah pak Riko di dalam danau. Ada yang menelfon ke kantor
polisi tadi, katanya ia mendengar suara tembakan dan melihat beberapa orang
melemparkan mayat ke danau”
“Ke
danau? Apa itu benar-benar pak Riko?”, Alyssa berakting dengan wajah kaget dan
tidak percaya.
“Iya.
Pak Riko teman ayahmu… Hey! Kenapa kamu berada disini sepagi ini? Ini masih
gelap. Pembunuh bisa saja berkeliaran di sekitar sini. Bisa saja kau jadi
sasarannya. Beberapa pekan ini, teman-teman ayahmu yang menjadi korban.”
“Ah,
aku hanya mencari udara segar pak”, Alyssa tersenyum kaku. Polisi ini mulai
curiga.
“Apa
kau mendengar suara tembakan beberapa saat lalu?”
“Tidak.
Aku tidak tahu.”
“Kami
menemukan dua luka tembak di kepala dan jantung pak Riko.”
“Setega
itukah pembunuh itu?”
“Ya,
kau harus hati-hati nak. Peringatkan ayahmu, bisa saja para pembunuh itu juga
mengicar ayahmu!”
“Oh,
ehm… Baiklah. Aku akan memperingatkan ayahku, juga mungkin harus segera
memberitahunya kabar duka ini. Saya… saya permisi dulu pak”, Alyssa sedikit
merunduk kemudian melangkah pergi.
Polisi
itu menahan bahu Alyssa. Alyssa menoleh dengan jantung berdebar kencang.
“Hati-hati
nak! Jangan pergi ke tempat yang sepi, apalagi saat gelap seperti ini. Ayahmu
dan seluruh jaringannya sepertinya dalam bahaya.”
“Ba…
baik pak”
“Apa
kau yakin tidak mendengar suara tembakan?”, Polisi itu mulai menginterogasi
kembali. Alyssa semakin berdebar, ia tak ingin menjadi saksi di kantor polisi.
Ia takut pada polisi. Apalagi seorang polisi lainnya mendatangi mereka.
“Hey
bung! Sedang apa kau disini bersama gadis ini?”, polisi yang baru dating
menepuk pundak temannya.
“Tidak
apa. Aku hanya bertanya pada gadis ini, kalau-kalau ia tahu akan kejadian itu.”
“Hey,
tentu saja! Aku melihatmu di perempatan berjalan menuju taman sekitar pukul 2
tadi nona. Pasti kau sudah disini sejak tadi. Apa yang kau lakukan disini?”
“Aku…..
hanya mencari udara segar. Dan aku….. tidak tahu apa-apa tentang pembunuhan
itu. Benar.”
“Ya.
Kau berada dimana tadi? Sangat mustahil jika di taman ini dan kau tidak
mendengar suara tembakan.”
“Eum,
aku tadi tertidur di bangku sebelah sana”, Alyssa menunjuk bangku yang lumayan
jauh dari tempat mereka berdiri. “
“Kau
benar-benar tidak mendengarnya?”, Polisi yang pertama datang –si gendut-,
bertanya lagi.
“Ya,
aku tertidur pulas tadi. Aku memang sering tertidur di taman ini. Aku sering
kesini malam hari.”
“Ya,
baiklah kalau kau memang tidak mendengarnya. Sepertinya kau harus mengubah
kebiasaanmu itu nak, pembunuh berkeliaran di mana-mana”, Polisi kedua yang
lebih tinggi dari polisi itu menasehati sambil membenahi letak sabuknya.
“Ya
tentu saja. Aku akan mengingat itu. Baiklah, aku harus segera pergi untuk
memeberi tahu ayahku berita ini. Permisi”
“Ya,
hati-hati nak!”
Kedua polisi itu berpandangan
sejenak. Kemudian meninggalkan Alyssa kembali ke TKP. Alyssa menghela nafas
sejenak, kemudian melangkahkan kaki. Pulang. Malamnya sungguh berat.
***
Alyssa sampai di pintu gerbang
rumahnya yang megah, jam di tangannya menunjukan pukul 4 pagi tapi seluruh
ruangan di rumahnya sudah terang benderang. Pasti berita ditemukannya jenazah
Riko sudah sampai di keluarga Umari.
Alyssa mengetuk pintu kecil di
gerbang rumahnya pelan dua kali. -Kode rahasia pada pak Ratno-.
Tok! tok!
Satpam rumah megah itu langsung
membuka pintu bagi anak gadis majikannya ini. Wajahnya terlihat sayu dan
ketakutan.
“Aduh non, kenapa nggak segera
balik sih? Tumben lama sekali, katanya cuma jalan-jalan. Orang rumah sudah pada
bangun semua, dan sepertinya sedang mencari non Alyssa.”, Satpam itu menunjukan
wajah ketakutan yang amat sangat. Alyssa tersenyum.
“Tenang aja pak. Pak Ratno bakal
selamat kok. Serahin semua ke saya. Oke?”, Alyssa mengedip ke pak Ratno.
“Iya non, tapi kalau ketahuan saya
bisa dipecat. Bisa ditebas juga leher saya non”
“Tenang aja pak”
“Eh non, non Alyssa sudah tahu
belum kalau pak Rik…”
“Saya sudah tahu pak. Saya tadi
habis dari Danau Taman Edelweis kok”
“Aduh non, non ngapain main kesana?
Bahaya non, kalau malam disana kan sepi non”, wajah satpam itu semakin pucat
ketakutan setelah tahu apa yang dilakukan majikannya ini di luar.
“Pak, tenang aja. Kalau bapak rebut,
kita nanti malah ketahuan. Sudah ah, saya masuk dulu pak”, Alyssa meninggalkan
satpam yang sekarang wajahnya sudah benar-benar pucat pasi itu.
***
Alyssa mengendap ke taman belakang
rumahnya, kemudian masuk melalui pintu dapur.
“Alyssa! Kamu darimana?”
Sial! Mama ada di dapur tempat Alyssa
mengendap masuk. Alyssa berhenti setelah menutup pintu, mencoba memasang
ekspresi yang biasa-biasa saja.
“Dari taman belakang ma. Cari udara
segar, eh malah ketiduran di bangku taman. Habis tadi Lyssa gabisa tidur di
kamar”, Alyssa menggigit bibir bawahnya. Menunjukan ekspresi bersalah. Sedang
sang mama hanya geleng-geleng saja.
“Lyss, kamu siap-siap gih! Kita
harus segera berangkat ke rumah keluarga Haling. Om Riko meninggal dunia tadi
pagi.”
Alyssa sudah tidak terkejut lagi
tapi ia menunjukan wajah terkejut dan sedih kepada mamanya.
“Apa ma? Om Riko……” Alyssa
menggantungkan kalimatnya, dan menggerak-gerakan tangannya di udara.
“Iya, om Riko ditemukan sudah tidak
bernyawa di dalam danau Edelweis. Katanya ada seorang wanita yang menelpon ke
kantor polisi melaporkan kejadian itu. Saat dilacak, ternyata ia menggunakan
telepon umum. Om Riko meninggal dengan dua luka tembak, kemudian dilemparkan ke
dalam danau. Sungguh tega sekali orang-orang itu.”, Sang mama menerawang jauh.
Alyssa sudah tahu itu semua, bahkan Alyssa yang benar-benar tahu semua
kejadian itu. Tapi ia terlalu takut untuk mengatakan kepada orang lain. Ia
takut berurusan dengan polisi. Ia takut jika ia menjadi saksi, penjahat itu
akan memburunya. Ia takut menjadi tertuduh, seperti yang dilakukan Rio tadi. Ia
takut, jika ia sibuk menjadi saksi ia tidak akan bisa mengingatkan dan menjaga
ayahnya. Alyssa benar-benar bingung saat ini. Tidak seharusnya dia pergi keluar
malam-malam seperti tadi. Seharusnya dia tahu itu. Bahaya yang mengancam di
malam hari lebih besar, apalagi dia adalah pewaris satu-satunya asset kekayaan
keluarga Umari. Tapi ia juga lelah berpura-pura, sepetang ini saja sudah
beberapa orang yang ia bohongi. Apalagi perasaan bersalahnya pada Rio. Membingungkan.
“Ehm, papa dimana ma?”
“Papa kamu ada di kamar, mama tidak
tega melihatnya seperti itu. Pekan lalu,
seorang rekan kerjasamanya terbunuh. Pekan ini, sudah 2 lainnya. Dan
hari ini sahabat terdekatnya ditemukan tewas di danau. Dari 5 orang dalam
kerjasama besar itu, tinggal ayah kamu yang masih hidup. Itu semua menimbulkan
kecurigaan orang-orang terhadap ayah kamu.”
“Eum, Lyssa mau temuin papa dulu”,
Lyssa melesat meninggalkan mamanya di dapur.
***
Krieett…
Alyssa membuka pintu kamar
orangtuanya. Ayahnya duduk termangu di pinggiran dipan. Kepalanya beliau
tundukan, dengan kedua tangan disatukan di antara kedua lutut. Penampilannya
sudah acak-acakan.
“Pa…..”, Alyssa berjalan mendekat
kepada sang ayah.
Ayahnya bergeming. Alyssa duduk
menekuk lutut di depan ayahnya. Menatap sang ayah prihatin. Digenggamnya tangan
sang ayah erat.
“Lyssa… Jika papa pergi
meninggalkan dunia ini, apa kamu sudah siap meneruskan perusahaan papa?”,
Tenggorokan Alyssa serasa tercekat.
“Mak…. Sud papa?”
“Iya Lyss, sepertinya papa akan
menjadi korban selanjutnya. Itu lebih baik bukan daripada papa dituduh sebagai
dalang pembunuhan teman-teman papa?”
“Nggak, papa nggak boleh ngomong
begitu!”, Lyssa menggeleng, ia mulai menangis.
“Pa… Dengerin aku. Lyssa lihat semuanya pa. Lyssa…
Lyssa lihat pembunuhan itu! Lyssa melihat 3 orang menembak om Riko dan
membuangnya ke danau. Lyssa lihat pa! Tapi Lyssa nggak bisa apa-apa karena
Lyssa terlalu takut. Lyssa nggak mau kehilangan papa, makanya Lyssa kesini
untuk bilang sama papa bahwa orang itu mengincar papa. Lyssa pengen
menyelamatkan papa, masa papa nggak mau menyelamatkan nyawa papa sendiri?!”,
Alyssa melepas genggaman tangannya. Menatap sang papa tajam.
“Papa hari ini jangan pergi ke
rumah om Riko. Bisa saja para penjahat itu ada disana. Lebih baik papa siapkan
koper papa. Kita harus sembunyi, Lyssa yang akan beresin semua ini. Papa jangan
sampai keluar dari rumah, sebelum Lyssa ajak papa keluar! Lyssa akan suruh para
penjaga menjaga kamar papa.”
“Kamu mau apa Lyss? Sudah, jangan macam-macam.
Ini terlalu berbahaya buat kamu.!”, Kiki akhirnya angkat bicara. Terlalu bahaya
bagi Lyssa untuk menghadapi para penjahat itu. Nyatanya bodyguard dari keempat
temannya saja kewalahan.
“Buat apa papa punya bodyguard
banyak tapi papa takut sama para pembunuh itu?”, Lyssa berdiri dan meninggalkan
ayahnya. Ia berhenti sebentar sebelum menutup pintu.
“Lyssa mau menemui Mr. Adit untuk
meningkatkan keamanan papa. Papa nggak perlu khawatir, Lyssa udah gede, udah
bisa jaga diri. Lyssa janji nggak akan nyia-nyiain nyawa sendiri. Papa juga
harus janji untuk menyelamatkan nyawa papa sendiri.”
Brak!
“Papa tidak bisa berjanji Lyssa,
mereka terlalu menakutkan untuk papa”, Kiki semakin tertunduk.
Ia terlalu takut pada musuhnya kali
ini. Mereka sudah benar-benar terorganisir, tidak seperti penyerangnya yang
sebelumnya. Sudah banyak yang gagal menyerang ia dan perusahaannya, tapi tidak
kali ini. 4 dari 5 orang anggota kerjasama dari 5 orang pemimpin perusahaan
besar sudah gugur. Ia tahu, orang ini mengincar seluruh perusahaan yang terikat ini. Dan bisa dipastikan ia akan
menjadi sasaran selanjutnya.
Riko adalah teman sekaligus
semangatnya selama ini. Mereka selalu bersama dan selalu bekerjasama.
Kehilangan Riko benar-benar membuat hidup seorang Kiki Umari terpuruk, belum
sempat ia melihat jenazah sahabatnya saja mentalnya sudah benar-benar
dijatuhkan. Ia benar-benar tidak memiliki semangat lagi.
“Riko, aku harus memenuhi janjiku
padamu sebelum aku pergi. Jika aku mati
sebelum aku memenuhi janjiku padamu, aku tidak akan pernah benar-benar pergi
dengan tenang.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar