Halaman

Jumat, Maret 06, 2015

A Short Love Story: Choosing You

Cakka kini memegang tangan gadis itu kuat-kuat. Kedua mata elangnya menatap tepat ke manik mata gadis yang sedang menatapnya juga. 

“Will you be my girl?”, tanya Cakka. Telak. Rio seperti tertimpa truk tronton. Pundaknya lemas. Kepalanya ngilu, begitu juga hatinya.

Rio sudah sejak lama memendam perasaan pada Ify. Namun tak ada keberanian dalam mengungkapkan perasaannya. Padahal Rio tahu, bahwa gadis itu juga memilikki rasa untuknya. Rio merasa bahwa Ify bukan levelnya, buka tipenya, tapi mengapa Rio malah jatuh cinta? Sekarang Rio malah mati-matian menahan cemburu dan kesal pada dirinya sendiri saat melihat Cakka menembak gadis idamannya. Cakka, teman seperjuangannya.
Memang, mencintai seseorang kita tak tahu kapan datangnya dan kepada siapa. Rio tak habis pikir, bagaimana orang secerdas dirinya dengan sifa dingin, cuek, pendiam, dan kalem bisa jatuh cinta pada gadis urakan, hobi main, petakilan, dan suka seenaknya sendiri?

Kini gadis itu menatap ke arahnya. Menyorotkan kegundahan hatinya. Meminta penjelasan akan hubungannya dengan Rio, dimana mereka saling tahu bahwa mereka saling mencintai dalam diam. Namun Rio tak pernah bertindak, dan membuat Ify lelah menunggu kepastian. Apakah ia akan menerima Cakka, sahabatnya untuk menjadi kekasihnya? Atau harus tetap menanti Rio? Ia gundah.

'Bege! Kenapa Cakka harus nembak di depan kelas sih? Kalau nolak kan susah. Rio lagi gak ada kepastian.' Batin Ify kelimpungan.

Bukan Ify tidak menyukai Cakka. Pria itu sudah sering meluluhkan hati Ify akhir-akhir ini. Mencoba mencuri perhatiannya, dengan tingkahnya yang manis namun tidak lebay. Menolongnya saat susah, dan selalu ada untuknya. Membuat Ify nyaman. Apakah hanya sebagai sahabat atau lebih? Entah. Ify gundah. Rio selalu di hatinya, dan akan selalu ada di hatinya. Cakka takkan bisa menggantikan posisi itu. Rio. Titik. Iyakah?

Sekali lagi Ify menatap Rio, pria itu hanya diam di ujung sana menatap Ify balik. Beberapa detik kemudian ia memalingkan wajahnya, mencoba sibuk dengan handphonenya membuat Ify semakin geram.

“Fy, jawab dong!” Teriak Zevana dari bangkunya. Semua mata kini tertuju pada Ify dan Cakka. 

“Kka...”, Ify mengisyaratkan agar Cakka mendekat.

“Jawabannya nanti waktu kita berdua aja ya. Jangan di depan anak-anak.” Ify berbisik ke telinga Cakka.

Ify mencoba untuk kembali ke bangkunya, namun Cakka mencengkram pergelangan tangannya.

“Aku mau sekarang fy!”

Ify kembali mendekat dan membisikkan kepada Cakka, “Gue punya beberapa hal untuk dijelaskan Kka. Tidak disini.”

“Yah, endingnya gimana nih? Kalian bikin kepo nih!” Seloroh Ozy lantang dari ujung kelas.

“Oke fy. Lo ikut gue sekarang!”, Cakka menarik kembali lengan Ify yang mencoba kembali ke bangkunya. “Eiiiittsss, tas gue Kka!”

Ify menyambar tasnya dan mengikuti Cakka ke parkiran. Ia sempat melirik sebentar ke arah Rio di bangkunya, sedang pria itu menatap Ify sendu.

'Aaarrrgh Rio. Jangan menatapku seperti itu! Beri saja aku kepastian.' Batin Ify sebal.

Ify mengikuti saja langkah kaki Cakka menuju motor Cagiva miliknya. Cakka memberikan satu helm pada Ify, dan satu lagi untuk dipakainya. Keduanya segera naik ke motor dan melaju keluar gerbang sekolah.

“Ke cafe di ujung jalan aja ya?”, Cakka memperlambat kecepatan motornya.

“Lo yakin? Itu rame. Mahal lagi.”

“Gue yang bayar fy, tenang aja.”

“Ogah. Rame.”

“Yaudah, ke tempat lain aja.”

Cakka mengendari motornya sedikit kencang. Sambil sesekali menggoda Ify seperti biasa. Namun tiba-tiba lampu berubah merah, ditariknya pelatuk rem dengan kuat. Membuat Ify terjungkal ke depan menabrak punggung Cakka yang bidang. Ify langsung mundur dan menyilangangkan lengannya di dada.

”Sial lo Kka!”

“Sorry fy, gak sengaja!”

Tiba-tiba sebuah motor berhenti di samping mereka. Senyum Rio merekah di sana, menambah kegundahan hati Ify.

“Cieee kalian. Kayaknya jadian beneran nih?”, Sapa Rio demgan senyum. Dipaksakan atau memang tulus?

“Ih, apasih...”, Ify menatap Rio gemas.

“Iya lah yo, jelas aja. Ya gak fy?”, Ify langsung menoyor helm Cakka mendengar pernyataan sepihak Cakka.

“Enak aja lo! Gue belum kasih kepastian buat lo ya...”

“Gue optimis, lo bakal nerima gue fy. Yakan?”

“Bege! Pede amat lo.”

“Iya, tau deh... Kalau cuma Ninja aja mah gak akan bisa ngalahin Cagiva.” Rio ikut berucap kali ini.

“Jangan karena pesimis dengan diri kamu sendiri, terus kamu kalah start. Kadang seseorang lebih memilih pilihan pertama bukan pilihan terbaik. Karena pilihan yang terbaik terlambat datang. Manusia itu kan nggak sabaran. Ngerti?” Ucapan Ify langsung menohok Rio. Tepat!

“Makanya, usahain lo jadi yang pertama. Meskipun lo bukan yang terbaik.”, Ify menambahkan saat lampu berubah menjadi hijau. Cakka yang sedang bingung dengan percakapan mereka langsung tergagap mendengar klakson dari kendaraan di belakangnya.

Cakka mengemudi dengan ngebut, meninggalkan Rio jauh di belakang. Benaknya masih memikirkan obrolan Ify dan Rio tadi. Seperti isyarat yang Cakka tidak mengerti. Seperti ada sesuatu yang hanya mereka berdua yang tahu. Cakka seperti tersisih di saat itu.

“Kka...”

“Eh? Hmm... Apa?”, Cakka tergagap saat Ify memanggilnya. Ia masih terfokus pada hal tadi.

“Kok lo diam aja? Padahal daritadi lo ngomong terus.”

“Gapapa.”

“Aneh tahu kalau lo diem gitu.”

“........” Cakka masih tetap diam. Mencoba fokus pada jalanan di depannya.

“Apa lo marah ya sama gue Kka?

Cakka membelokan motor ke arah lapangan futsal milik keluarganya. Lapangan sedang sepi karena tidak ada yang menyewa. Hanya terlihat pak Agus sedang bersih-bersih. Cakka memarkirkan motor tepat di depan pintu. Ify segera turun dari motor.

“Enggak.” Jawab Cakka singkat.

Cakka masuk ke dalam gelanggang itu, Ify mengikuti saja. Ada 3 lapangan di dalam sini, dengan langit-langit yang tinggi dan ventilasi udara yang terus berputar di atas sana. Aroma khas tempat olahraga langsung tercium. Ify mengikuti Cakka hingga sampai di salah satu tribun yang menghadap ke Utara, dan mengikuti Cakka duduk.

Beberapa menit keduanya saling diam. Ada perasaan canggung yang tiba-tiba muncul di sana. Di antara sepasang sahabat yang bisa bercanda-tawa bersama. Perasaan canggung yang berasal dari hati mereka masing-masing. Cakka yang takut akan kehilangan Ify jika gadis itu menolaknya. Dan Ify yang takut menyakiti Cakka dan kehilangan sahabatnya itu. Hingga akhirnya Cakka memulai dengan satu kata, “Jadi....”

“Maaf Kka, aku bingung harus menjawab apa karena aku memiliki seseorang lain di hatiku.”

Cakka tersentak. Melihat Ify yang terus menunduk dan enggan menatapnya, ada rasa canggung yang terus meluap.

“Baiklah.”

Hening beberapa saat. Keduanya menyelami pikiran masing-masing.

“Apa maksudmu dengan...... Baiklah?”

“Aku tidak akan memaksa. Mungkin saja aku yang salah mengartikan perasaan nyaman ini. Kau tahu kan? Persahabatan antara laki-laki dan perempuan sering berakhir karena salah mengartikan perasaan? Perasaan nyaman yang sebenarnya sebagai sahabat, bukan untuk menjadi kekasih.”

“Tapi, bukankah kisah cinta beberapa orang yang jatuh cinta dengan sahabatnya berakhir bahagia?”

“Itu adalah sebuah anugerah. Dimana keduanya saling mencintai. Tapi tidak dengan kita.”

“Bolehkah aku bertanya?”

“Apa?”, Cakka menatap langsung ke manik mata Ify.

”Apa kau yakin itu hanya perasaan nyaman yang kamu salah artikan? Atau kamu memang mencintaiku, Kka?”, pertanyaan Ify membuat Cakka membisu. “Jujur saja, tak apa.”

“Aku... Mencintaimu fy. Bukan lagi hanya perasaan nyaman.”, Jawab laki-laki itu setelah membisu beberapa saat.

“Lalu kenapa kamu bilang itu hanya perasaan nyaman yang kamu salah artikan?”

“Aku takut, jika aku berkata yang sejujurnya aku bisa kehilanganmu. Walaupun tidak menjadi kekasihmu, aku ingin tetap menjadi sahabatmu fy.” Kini giliran Ify yang terdiam.

“Kalau boleh aku tahu, siapa pria yang sudah ada di hatimu?”

“Uhmm... Itu... Rio.”

Pernyataan yang menjelaskan pertanyaan di benak Cakka. Ify mencintai Rio, dengan isyarat itu berarti Rio juga mencintai Ify. Cakka merasa semakin tersisih.

“Tapi... Kurasa biarkan saja Rio. Aku sudah lelah padanya. Aku menyerah.” Ify memberanikan diri menatap Cakka.

“Kenapa?”

“Kami tahu kami saling cinta. Tapi tak ada perubahan. Kami hanya saling diam, saling pandang, saling berisyarat. Tapi tak pernah bergerak untuk saling mendekat.”

“Kenapa kamu tidak memulai mendekatinya?”, Cakka menyiapkan hatinya untuk mendengarkan curhatan Ify tentang Rio yang pertama kali. Siap remuk. Siap tersakiti. Mungkin saja gadis itu tahu perasaanya sejak dulu, dan tak ingin menyakiti hatinya. Hingga ia menyimpannya sendiri tanpa memberitahu Cakka. Yang ia tahu, Ify selalu bercerita padanya tentang hal-hal di kehidupan gadis itu. Ia pikir Ify belum memiliki tambatan hati, dan ia pun memberanikan diri untuk memperjuangkan perasaannya.

“Aku wanita. Tak sepantasnya memulai dalam hal ini.”

“Ini beda lagi fy, disini kamu harus berani memulai. Sampai kapan kalian akan seperti ini terus? Apakah....”, Cakka mencoba memberi solusi. Meski ia ingin Ify menyerah pada Rio. Namun ia tak boleh egois hingga merusak kisah mereka. Menyakiti Ify.

“Sudahlah Kka! Aku ingin melepaskannya saja”, Ify memotong pembicaraan pria itu.

“Baiklah. Terserah padamu...”

“Maukah kamu membantuku Kka?”

“Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

“Ajari aku mencintaimu, agar aku tahu rasa sakit karena mencintaimu. Biarkan aku yang merasakan sakitnya, bukan kamu yang terus tersakiti karena mencintaiku.”

“Maksudmu?”

“Yes, I'll be your girl.”

“........”, Cakka diam. Masih tidak percaya dan bingung.

“Hey! Aku akan melupakan pria itu perlahan. Bantulah aku untuk mencintaimu. Rasanya bodoh jika aku memilih dia yang tak memilihku. Memilih pria yang diam saja daripada yang lain mau memperjuangkanku, yang selalu ada untukku. Kamu.”

Cakka masih diam, mencerna ucapan Ify.

“Hehe... Oke. Jadi kita balik lagi kaya dulu ya. Gak usah melow-melow lagi. Meskipun lo sekarang pacar gue, kita harus tetap kayak biasanya. Gue nyaman sama lo yang biasanya. Dan gue gak mau yang berubah selain peningkatan status kita. Tetep panggil gue-elo kayak biasa, tetep bercanda gila kayak biasa. Pokoknya...”

“Hahaha... Mulai deh lo bawelnya! Tadi kemana aja bang? Melow mulu. Woooo...”, Ify menjitak Cakka gemas.

'Lupain Rio fy, gue akan selalu ada disini buat lo. Lo gak butuh dia, karena gue akan jadi apapun yang lo butuhin. Lo milik gue, selamanya.', Cakka menatap Ify instens. Gadis itu tersipu.

Cakka langsung merengkuh pundak Ify untuk memeluknya. Gadis itu tenggelam disana, di dada bidang Cakka yang memberi kehangatan, rasa aman, dan nyaman. 

“Im lucky. Im in love with my best friend.”
“Im lucky. To be loved by my bestfriend.”