Halaman

Jumat, Maret 06, 2015

A Short Love Story: Choosing You

Cakka kini memegang tangan gadis itu kuat-kuat. Kedua mata elangnya menatap tepat ke manik mata gadis yang sedang menatapnya juga. 

“Will you be my girl?”, tanya Cakka. Telak. Rio seperti tertimpa truk tronton. Pundaknya lemas. Kepalanya ngilu, begitu juga hatinya.

Rio sudah sejak lama memendam perasaan pada Ify. Namun tak ada keberanian dalam mengungkapkan perasaannya. Padahal Rio tahu, bahwa gadis itu juga memilikki rasa untuknya. Rio merasa bahwa Ify bukan levelnya, buka tipenya, tapi mengapa Rio malah jatuh cinta? Sekarang Rio malah mati-matian menahan cemburu dan kesal pada dirinya sendiri saat melihat Cakka menembak gadis idamannya. Cakka, teman seperjuangannya.
Memang, mencintai seseorang kita tak tahu kapan datangnya dan kepada siapa. Rio tak habis pikir, bagaimana orang secerdas dirinya dengan sifa dingin, cuek, pendiam, dan kalem bisa jatuh cinta pada gadis urakan, hobi main, petakilan, dan suka seenaknya sendiri?

Kini gadis itu menatap ke arahnya. Menyorotkan kegundahan hatinya. Meminta penjelasan akan hubungannya dengan Rio, dimana mereka saling tahu bahwa mereka saling mencintai dalam diam. Namun Rio tak pernah bertindak, dan membuat Ify lelah menunggu kepastian. Apakah ia akan menerima Cakka, sahabatnya untuk menjadi kekasihnya? Atau harus tetap menanti Rio? Ia gundah.

'Bege! Kenapa Cakka harus nembak di depan kelas sih? Kalau nolak kan susah. Rio lagi gak ada kepastian.' Batin Ify kelimpungan.

Bukan Ify tidak menyukai Cakka. Pria itu sudah sering meluluhkan hati Ify akhir-akhir ini. Mencoba mencuri perhatiannya, dengan tingkahnya yang manis namun tidak lebay. Menolongnya saat susah, dan selalu ada untuknya. Membuat Ify nyaman. Apakah hanya sebagai sahabat atau lebih? Entah. Ify gundah. Rio selalu di hatinya, dan akan selalu ada di hatinya. Cakka takkan bisa menggantikan posisi itu. Rio. Titik. Iyakah?

Sekali lagi Ify menatap Rio, pria itu hanya diam di ujung sana menatap Ify balik. Beberapa detik kemudian ia memalingkan wajahnya, mencoba sibuk dengan handphonenya membuat Ify semakin geram.

“Fy, jawab dong!” Teriak Zevana dari bangkunya. Semua mata kini tertuju pada Ify dan Cakka. 

“Kka...”, Ify mengisyaratkan agar Cakka mendekat.

“Jawabannya nanti waktu kita berdua aja ya. Jangan di depan anak-anak.” Ify berbisik ke telinga Cakka.

Ify mencoba untuk kembali ke bangkunya, namun Cakka mencengkram pergelangan tangannya.

“Aku mau sekarang fy!”

Ify kembali mendekat dan membisikkan kepada Cakka, “Gue punya beberapa hal untuk dijelaskan Kka. Tidak disini.”

“Yah, endingnya gimana nih? Kalian bikin kepo nih!” Seloroh Ozy lantang dari ujung kelas.

“Oke fy. Lo ikut gue sekarang!”, Cakka menarik kembali lengan Ify yang mencoba kembali ke bangkunya. “Eiiiittsss, tas gue Kka!”

Ify menyambar tasnya dan mengikuti Cakka ke parkiran. Ia sempat melirik sebentar ke arah Rio di bangkunya, sedang pria itu menatap Ify sendu.

'Aaarrrgh Rio. Jangan menatapku seperti itu! Beri saja aku kepastian.' Batin Ify sebal.

Ify mengikuti saja langkah kaki Cakka menuju motor Cagiva miliknya. Cakka memberikan satu helm pada Ify, dan satu lagi untuk dipakainya. Keduanya segera naik ke motor dan melaju keluar gerbang sekolah.

“Ke cafe di ujung jalan aja ya?”, Cakka memperlambat kecepatan motornya.

“Lo yakin? Itu rame. Mahal lagi.”

“Gue yang bayar fy, tenang aja.”

“Ogah. Rame.”

“Yaudah, ke tempat lain aja.”

Cakka mengendari motornya sedikit kencang. Sambil sesekali menggoda Ify seperti biasa. Namun tiba-tiba lampu berubah merah, ditariknya pelatuk rem dengan kuat. Membuat Ify terjungkal ke depan menabrak punggung Cakka yang bidang. Ify langsung mundur dan menyilangangkan lengannya di dada.

”Sial lo Kka!”

“Sorry fy, gak sengaja!”

Tiba-tiba sebuah motor berhenti di samping mereka. Senyum Rio merekah di sana, menambah kegundahan hati Ify.

“Cieee kalian. Kayaknya jadian beneran nih?”, Sapa Rio demgan senyum. Dipaksakan atau memang tulus?

“Ih, apasih...”, Ify menatap Rio gemas.

“Iya lah yo, jelas aja. Ya gak fy?”, Ify langsung menoyor helm Cakka mendengar pernyataan sepihak Cakka.

“Enak aja lo! Gue belum kasih kepastian buat lo ya...”

“Gue optimis, lo bakal nerima gue fy. Yakan?”

“Bege! Pede amat lo.”

“Iya, tau deh... Kalau cuma Ninja aja mah gak akan bisa ngalahin Cagiva.” Rio ikut berucap kali ini.

“Jangan karena pesimis dengan diri kamu sendiri, terus kamu kalah start. Kadang seseorang lebih memilih pilihan pertama bukan pilihan terbaik. Karena pilihan yang terbaik terlambat datang. Manusia itu kan nggak sabaran. Ngerti?” Ucapan Ify langsung menohok Rio. Tepat!

“Makanya, usahain lo jadi yang pertama. Meskipun lo bukan yang terbaik.”, Ify menambahkan saat lampu berubah menjadi hijau. Cakka yang sedang bingung dengan percakapan mereka langsung tergagap mendengar klakson dari kendaraan di belakangnya.

Cakka mengemudi dengan ngebut, meninggalkan Rio jauh di belakang. Benaknya masih memikirkan obrolan Ify dan Rio tadi. Seperti isyarat yang Cakka tidak mengerti. Seperti ada sesuatu yang hanya mereka berdua yang tahu. Cakka seperti tersisih di saat itu.

“Kka...”

“Eh? Hmm... Apa?”, Cakka tergagap saat Ify memanggilnya. Ia masih terfokus pada hal tadi.

“Kok lo diam aja? Padahal daritadi lo ngomong terus.”

“Gapapa.”

“Aneh tahu kalau lo diem gitu.”

“........” Cakka masih tetap diam. Mencoba fokus pada jalanan di depannya.

“Apa lo marah ya sama gue Kka?

Cakka membelokan motor ke arah lapangan futsal milik keluarganya. Lapangan sedang sepi karena tidak ada yang menyewa. Hanya terlihat pak Agus sedang bersih-bersih. Cakka memarkirkan motor tepat di depan pintu. Ify segera turun dari motor.

“Enggak.” Jawab Cakka singkat.

Cakka masuk ke dalam gelanggang itu, Ify mengikuti saja. Ada 3 lapangan di dalam sini, dengan langit-langit yang tinggi dan ventilasi udara yang terus berputar di atas sana. Aroma khas tempat olahraga langsung tercium. Ify mengikuti Cakka hingga sampai di salah satu tribun yang menghadap ke Utara, dan mengikuti Cakka duduk.

Beberapa menit keduanya saling diam. Ada perasaan canggung yang tiba-tiba muncul di sana. Di antara sepasang sahabat yang bisa bercanda-tawa bersama. Perasaan canggung yang berasal dari hati mereka masing-masing. Cakka yang takut akan kehilangan Ify jika gadis itu menolaknya. Dan Ify yang takut menyakiti Cakka dan kehilangan sahabatnya itu. Hingga akhirnya Cakka memulai dengan satu kata, “Jadi....”

“Maaf Kka, aku bingung harus menjawab apa karena aku memiliki seseorang lain di hatiku.”

Cakka tersentak. Melihat Ify yang terus menunduk dan enggan menatapnya, ada rasa canggung yang terus meluap.

“Baiklah.”

Hening beberapa saat. Keduanya menyelami pikiran masing-masing.

“Apa maksudmu dengan...... Baiklah?”

“Aku tidak akan memaksa. Mungkin saja aku yang salah mengartikan perasaan nyaman ini. Kau tahu kan? Persahabatan antara laki-laki dan perempuan sering berakhir karena salah mengartikan perasaan? Perasaan nyaman yang sebenarnya sebagai sahabat, bukan untuk menjadi kekasih.”

“Tapi, bukankah kisah cinta beberapa orang yang jatuh cinta dengan sahabatnya berakhir bahagia?”

“Itu adalah sebuah anugerah. Dimana keduanya saling mencintai. Tapi tidak dengan kita.”

“Bolehkah aku bertanya?”

“Apa?”, Cakka menatap langsung ke manik mata Ify.

”Apa kau yakin itu hanya perasaan nyaman yang kamu salah artikan? Atau kamu memang mencintaiku, Kka?”, pertanyaan Ify membuat Cakka membisu. “Jujur saja, tak apa.”

“Aku... Mencintaimu fy. Bukan lagi hanya perasaan nyaman.”, Jawab laki-laki itu setelah membisu beberapa saat.

“Lalu kenapa kamu bilang itu hanya perasaan nyaman yang kamu salah artikan?”

“Aku takut, jika aku berkata yang sejujurnya aku bisa kehilanganmu. Walaupun tidak menjadi kekasihmu, aku ingin tetap menjadi sahabatmu fy.” Kini giliran Ify yang terdiam.

“Kalau boleh aku tahu, siapa pria yang sudah ada di hatimu?”

“Uhmm... Itu... Rio.”

Pernyataan yang menjelaskan pertanyaan di benak Cakka. Ify mencintai Rio, dengan isyarat itu berarti Rio juga mencintai Ify. Cakka merasa semakin tersisih.

“Tapi... Kurasa biarkan saja Rio. Aku sudah lelah padanya. Aku menyerah.” Ify memberanikan diri menatap Cakka.

“Kenapa?”

“Kami tahu kami saling cinta. Tapi tak ada perubahan. Kami hanya saling diam, saling pandang, saling berisyarat. Tapi tak pernah bergerak untuk saling mendekat.”

“Kenapa kamu tidak memulai mendekatinya?”, Cakka menyiapkan hatinya untuk mendengarkan curhatan Ify tentang Rio yang pertama kali. Siap remuk. Siap tersakiti. Mungkin saja gadis itu tahu perasaanya sejak dulu, dan tak ingin menyakiti hatinya. Hingga ia menyimpannya sendiri tanpa memberitahu Cakka. Yang ia tahu, Ify selalu bercerita padanya tentang hal-hal di kehidupan gadis itu. Ia pikir Ify belum memiliki tambatan hati, dan ia pun memberanikan diri untuk memperjuangkan perasaannya.

“Aku wanita. Tak sepantasnya memulai dalam hal ini.”

“Ini beda lagi fy, disini kamu harus berani memulai. Sampai kapan kalian akan seperti ini terus? Apakah....”, Cakka mencoba memberi solusi. Meski ia ingin Ify menyerah pada Rio. Namun ia tak boleh egois hingga merusak kisah mereka. Menyakiti Ify.

“Sudahlah Kka! Aku ingin melepaskannya saja”, Ify memotong pembicaraan pria itu.

“Baiklah. Terserah padamu...”

“Maukah kamu membantuku Kka?”

“Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

“Ajari aku mencintaimu, agar aku tahu rasa sakit karena mencintaimu. Biarkan aku yang merasakan sakitnya, bukan kamu yang terus tersakiti karena mencintaiku.”

“Maksudmu?”

“Yes, I'll be your girl.”

“........”, Cakka diam. Masih tidak percaya dan bingung.

“Hey! Aku akan melupakan pria itu perlahan. Bantulah aku untuk mencintaimu. Rasanya bodoh jika aku memilih dia yang tak memilihku. Memilih pria yang diam saja daripada yang lain mau memperjuangkanku, yang selalu ada untukku. Kamu.”

Cakka masih diam, mencerna ucapan Ify.

“Hehe... Oke. Jadi kita balik lagi kaya dulu ya. Gak usah melow-melow lagi. Meskipun lo sekarang pacar gue, kita harus tetap kayak biasanya. Gue nyaman sama lo yang biasanya. Dan gue gak mau yang berubah selain peningkatan status kita. Tetep panggil gue-elo kayak biasa, tetep bercanda gila kayak biasa. Pokoknya...”

“Hahaha... Mulai deh lo bawelnya! Tadi kemana aja bang? Melow mulu. Woooo...”, Ify menjitak Cakka gemas.

'Lupain Rio fy, gue akan selalu ada disini buat lo. Lo gak butuh dia, karena gue akan jadi apapun yang lo butuhin. Lo milik gue, selamanya.', Cakka menatap Ify instens. Gadis itu tersipu.

Cakka langsung merengkuh pundak Ify untuk memeluknya. Gadis itu tenggelam disana, di dada bidang Cakka yang memberi kehangatan, rasa aman, dan nyaman. 

“Im lucky. Im in love with my best friend.”
“Im lucky. To be loved by my bestfriend.”

Jumat, Juli 04, 2014

the Hardest Raid - Part 1B [RiFy]



“Eh, iya? Ada apa pak?”
                “Mengapa kamu malam-malam keluyuran disini?” Polisi! Alyssa benar-bena takut jika harus berurusan dengan polisi.
                “Ng… anu pak.”
                “Hey! Saya kenal kamu. Kamu Alyssa Umari kan? Anak semata wayang dari Kiki Umari.”
                “Eh, iya pak”
                “Apa kamu tahu? Mayat yang kami temukan di danau pagi ini adalah jenazah sahabat ayahmu, Riko Haling.”
                “Je… jenazah pak?”, Alyssa pura-pura tidak tahu.
                “Ya, kami menemukan jenazah pak Riko di dalam danau. Ada yang menelfon ke kantor polisi tadi, katanya ia mendengar suara tembakan dan melihat beberapa orang melemparkan mayat ke danau”
                “Ke danau? Apa itu benar-benar pak Riko?”, Alyssa berakting dengan wajah kaget dan tidak percaya.
                “Iya. Pak Riko teman ayahmu… Hey! Kenapa kamu berada disini sepagi ini? Ini masih gelap. Pembunuh bisa saja berkeliaran di sekitar sini. Bisa saja kau jadi sasarannya. Beberapa pekan ini, teman-teman ayahmu yang menjadi korban.”
                “Ah, aku hanya mencari udara segar pak”, Alyssa tersenyum kaku. Polisi ini mulai curiga.
                “Apa kau mendengar suara tembakan beberapa saat lalu?”
                “Tidak. Aku tidak tahu.”               
                “Kami menemukan dua luka tembak di kepala dan jantung pak Riko.”
                “Setega itukah pembunuh itu?”
                “Ya, kau harus hati-hati nak. Peringatkan ayahmu, bisa saja para pembunuh itu juga mengicar ayahmu!”
                “Oh, ehm… Baiklah. Aku akan memperingatkan ayahku, juga mungkin harus segera memberitahunya kabar duka ini. Saya… saya permisi dulu pak”, Alyssa sedikit merunduk kemudian melangkah pergi.
                Polisi itu menahan bahu Alyssa. Alyssa menoleh dengan jantung berdebar kencang.
                “Hati-hati nak! Jangan pergi ke tempat yang sepi, apalagi saat gelap seperti ini. Ayahmu dan seluruh jaringannya sepertinya dalam bahaya.”
                “Ba… baik pak”
                “Apa kau yakin tidak mendengar suara tembakan?”, Polisi itu mulai menginterogasi kembali. Alyssa semakin berdebar, ia tak ingin menjadi saksi di kantor polisi. Ia takut pada polisi. Apalagi seorang polisi lainnya mendatangi mereka.
                “Hey bung! Sedang apa kau disini bersama gadis ini?”, polisi yang baru dating menepuk pundak temannya.
                “Tidak apa. Aku hanya bertanya pada gadis ini, kalau-kalau ia tahu akan kejadian itu.”
                “Hey, tentu saja! Aku melihatmu di perempatan berjalan menuju taman sekitar pukul 2 tadi nona. Pasti kau sudah disini sejak tadi. Apa yang kau lakukan disini?”
                “Aku….. hanya mencari udara segar. Dan aku….. tidak tahu apa-apa tentang pembunuhan itu. Benar.”
                “Ya. Kau berada dimana tadi? Sangat mustahil jika di taman ini dan kau tidak mendengar suara tembakan.”
                “Eum, aku tadi tertidur di bangku sebelah sana”, Alyssa menunjuk bangku yang lumayan jauh dari tempat mereka berdiri. “
                “Kau benar-benar tidak mendengarnya?”, Polisi yang pertama datang –si gendut-, bertanya lagi.
                “Ya, aku tertidur pulas tadi. Aku memang sering tertidur di taman ini. Aku sering kesini malam hari.”
                “Ya, baiklah kalau kau memang tidak mendengarnya. Sepertinya kau harus mengubah kebiasaanmu itu nak, pembunuh berkeliaran di mana-mana”, Polisi kedua yang lebih tinggi dari polisi itu menasehati sambil membenahi letak sabuknya.
                “Ya tentu saja. Aku akan mengingat itu. Baiklah, aku harus segera pergi untuk memeberi tahu ayahku berita ini. Permisi”
                “Ya, hati-hati nak!”
Kedua polisi itu berpandangan sejenak. Kemudian meninggalkan Alyssa kembali ke TKP. Alyssa menghela nafas sejenak, kemudian melangkahkan kaki. Pulang. Malamnya sungguh berat.
***
Alyssa sampai di pintu gerbang rumahnya yang megah, jam di tangannya menunjukan pukul 4 pagi tapi seluruh ruangan di rumahnya sudah terang benderang. Pasti berita ditemukannya jenazah Riko sudah sampai di keluarga Umari.
Alyssa mengetuk pintu kecil di gerbang rumahnya pelan dua kali. -Kode rahasia pada pak Ratno-.

Tok!  tok!
Satpam rumah megah itu langsung membuka pintu bagi anak gadis majikannya ini. Wajahnya terlihat sayu dan ketakutan.
“Aduh non, kenapa nggak segera balik sih? Tumben lama sekali, katanya cuma jalan-jalan. Orang rumah sudah pada bangun semua, dan sepertinya sedang mencari non Alyssa.”, Satpam itu menunjukan wajah ketakutan yang amat sangat. Alyssa tersenyum.
“Tenang aja pak. Pak Ratno bakal selamat kok. Serahin semua ke saya. Oke?”, Alyssa mengedip ke pak Ratno.
“Iya non, tapi kalau ketahuan saya bisa dipecat. Bisa ditebas juga leher saya non”
“Tenang aja pak”
“Eh non, non Alyssa sudah tahu belum kalau pak Rik…”
“Saya sudah tahu pak. Saya tadi habis dari Danau Taman Edelweis kok”
“Aduh non, non ngapain main kesana? Bahaya non, kalau malam disana kan sepi non”, wajah satpam itu semakin pucat ketakutan setelah tahu apa yang dilakukan majikannya ini di luar.
“Pak, tenang aja. Kalau bapak rebut, kita nanti malah ketahuan. Sudah ah, saya masuk dulu pak”, Alyssa meninggalkan satpam yang sekarang wajahnya sudah benar-benar pucat pasi itu.
***
Alyssa mengendap ke taman belakang rumahnya, kemudian masuk melalui pintu dapur.
“Alyssa! Kamu darimana?”
Sial! Mama ada di dapur tempat Alyssa mengendap masuk. Alyssa berhenti setelah menutup pintu, mencoba memasang ekspresi yang biasa-biasa saja.
“Dari taman belakang ma. Cari udara segar, eh malah ketiduran di bangku taman. Habis tadi Lyssa gabisa tidur di kamar”, Alyssa menggigit bibir bawahnya. Menunjukan ekspresi bersalah. Sedang sang mama hanya geleng-geleng saja.
“Lyss, kamu siap-siap gih! Kita harus segera berangkat ke rumah keluarga Haling. Om Riko meninggal dunia tadi pagi.”
Alyssa sudah tidak terkejut lagi tapi ia menunjukan wajah terkejut dan sedih kepada mamanya.
“Apa ma? Om Riko……” Alyssa menggantungkan kalimatnya, dan menggerak-gerakan tangannya di udara.
“Iya, om Riko ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam danau Edelweis. Katanya ada seorang wanita yang menelpon ke kantor polisi melaporkan kejadian itu. Saat dilacak, ternyata ia menggunakan telepon umum. Om Riko meninggal dengan dua luka tembak, kemudian dilemparkan ke dalam danau. Sungguh tega sekali orang-orang itu.”, Sang mama menerawang jauh.
Alyssa sudah tahu itu semua,  bahkan Alyssa yang benar-benar tahu semua kejadian itu. Tapi ia terlalu takut untuk mengatakan kepada orang lain. Ia takut berurusan dengan polisi. Ia takut jika ia menjadi saksi, penjahat itu akan memburunya. Ia takut menjadi tertuduh, seperti yang dilakukan Rio tadi. Ia takut, jika ia sibuk menjadi saksi ia tidak akan bisa mengingatkan dan menjaga ayahnya. Alyssa benar-benar bingung saat ini. Tidak seharusnya dia pergi keluar malam-malam seperti tadi. Seharusnya dia tahu itu. Bahaya yang mengancam di malam hari lebih besar, apalagi dia adalah pewaris satu-satunya asset kekayaan keluarga Umari. Tapi ia juga lelah berpura-pura, sepetang ini saja sudah beberapa orang yang ia bohongi. Apalagi perasaan bersalahnya pada Rio. Membingungkan.
“Ehm, papa dimana ma?”
“Papa kamu ada di kamar, mama tidak tega melihatnya seperti itu. Pekan lalu,  seorang rekan kerjasamanya terbunuh. Pekan ini, sudah 2 lainnya. Dan hari ini sahabat terdekatnya ditemukan tewas di danau. Dari 5 orang dalam kerjasama besar itu, tinggal ayah kamu yang masih hidup. Itu semua menimbulkan kecurigaan orang-orang terhadap ayah kamu.”
“Eum, Lyssa mau temuin papa dulu”, Lyssa melesat meninggalkan mamanya di dapur.
***
Krieett…
Alyssa membuka pintu kamar orangtuanya. Ayahnya duduk termangu di pinggiran dipan. Kepalanya beliau tundukan, dengan kedua tangan disatukan di antara kedua lutut. Penampilannya sudah acak-acakan.
“Pa…..”, Alyssa berjalan mendekat kepada sang ayah.
Ayahnya bergeming. Alyssa duduk menekuk lutut di depan ayahnya. Menatap sang ayah prihatin. Digenggamnya tangan sang ayah erat.
“Lyssa… Jika papa pergi meninggalkan dunia ini, apa kamu sudah siap meneruskan perusahaan papa?”, Tenggorokan Alyssa  serasa tercekat.
“Mak…. Sud papa?”
“Iya Lyss, sepertinya papa akan menjadi korban selanjutnya. Itu lebih baik bukan daripada papa dituduh sebagai dalang pembunuhan teman-teman papa?”
“Nggak, papa nggak boleh ngomong begitu!”, Lyssa menggeleng, ia mulai menangis.
 “Pa… Dengerin aku. Lyssa lihat semuanya pa. Lyssa… Lyssa lihat pembunuhan itu! Lyssa melihat 3 orang menembak om Riko dan membuangnya ke danau. Lyssa lihat pa! Tapi Lyssa nggak bisa apa-apa karena Lyssa terlalu takut. Lyssa nggak mau kehilangan papa, makanya Lyssa kesini untuk bilang sama papa bahwa orang itu mengincar papa. Lyssa pengen menyelamatkan papa, masa papa nggak mau menyelamatkan nyawa papa sendiri?!”, Alyssa melepas genggaman tangannya. Menatap sang papa tajam.
“Papa hari ini jangan pergi ke rumah om Riko. Bisa saja para penjahat itu ada disana. Lebih baik papa siapkan koper papa. Kita harus sembunyi, Lyssa yang akan beresin semua ini. Papa jangan sampai keluar dari rumah, sebelum Lyssa ajak papa keluar! Lyssa akan suruh para penjaga menjaga kamar papa.”
“Kamu mau apa Lyss? Sudah, jangan macam-macam. Ini terlalu berbahaya buat kamu.!”, Kiki akhirnya angkat bicara. Terlalu bahaya bagi Lyssa untuk menghadapi para penjahat itu. Nyatanya bodyguard dari keempat temannya saja kewalahan.
“Buat apa papa punya bodyguard banyak tapi papa takut sama para pembunuh itu?”, Lyssa berdiri dan meninggalkan ayahnya. Ia berhenti sebentar sebelum menutup pintu.
“Lyssa mau menemui Mr. Adit untuk meningkatkan keamanan papa. Papa nggak perlu khawatir, Lyssa udah gede, udah bisa jaga diri. Lyssa janji nggak akan nyia-nyiain nyawa sendiri. Papa juga harus janji untuk menyelamatkan nyawa papa sendiri.”
Brak!
“Papa tidak bisa berjanji Lyssa, mereka terlalu menakutkan untuk papa”, Kiki semakin tertunduk.
Ia terlalu takut pada musuhnya kali ini. Mereka sudah benar-benar terorganisir, tidak seperti penyerangnya yang sebelumnya. Sudah banyak yang gagal menyerang ia dan perusahaannya, tapi tidak kali ini. 4 dari 5 orang anggota kerjasama dari 5 orang pemimpin perusahaan besar sudah gugur. Ia tahu, orang ini mengincar seluruh perusahaan  yang terikat ini. Dan bisa dipastikan ia akan menjadi sasaran selanjutnya.
Riko adalah teman sekaligus semangatnya selama ini. Mereka selalu bersama dan selalu bekerjasama. Kehilangan Riko benar-benar membuat hidup seorang Kiki Umari terpuruk, belum sempat ia melihat jenazah sahabatnya saja mentalnya sudah benar-benar dijatuhkan. Ia benar-benar tidak memiliki semangat lagi.
“Riko, aku harus memenuhi janjiku padamu  sebelum aku pergi. Jika aku mati sebelum aku memenuhi janjiku padamu, aku tidak akan pernah benar-benar pergi dengan tenang.”


Rabu, Juli 02, 2014

the Hardest Raid - Part 1 [RiFy]



Ini cerita baru dari saya. Semoga banyak yang suka. Terutama RFM dan ICL semua. Cheers!



Title: the Hardest Raid
Genre: Romantic, Action.

BAM! Bruk..
DOORR!!
DOOOR!!
“Cepat! Buang mayatnya si brengsek ini ke danau!”
Deg  deg deg, detak jantung Alyssa berdegup begitu cepat. Ia segera bersembunyi di balik semak. Tiga pria berbadan kekar dengan jas hitam sedang membuang mayat seseorang ke danau di depan sana. Jika mereka tahu keberadaan Alyssa, pastilah ia akan ikut dibunuh juga. Karena ia telah menjadi saksi aksi pembunuhan tersebut. Sebaiknya ia diam disana sampai ketiga pria yang 10 meter di depannya itu pergi. Tapi tunggu! Sepertinya Alyssa kenal mayat itu.
Alyssa memicing mencoba menyesuaikan pandangannya di kegelapan pagi ini. Sepertinya ia kenal, sungguh tidak asing lagi. Seperti om Riko. Ada tanda hitam besar di kening kiri mayat itu.
“Itu kan om Riko. Benar om Riko. Ya Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi?”, Alyssa merosot di balik semak. Om Riko adalah sahabat sekaligus rekan kerja sang papa yang sudah sangat dekat dengannya. Bahkan keluarga mereka sudah dekat seperti saudara. Dan pemandangan di depannya sekarang ini benar-benar menyedihkan.

“Cepat! Kita tidak boleh ketahuan. Ingat jangan meninggalkan jejak sedikitpun!”, Kata sang boss yang kemudian berjalan meninggalkan dua anak buahnya. Mereka terlihat professional dalam hal ini.
“Gue seneng banget pekerjaan ini, memacu adrenalin banget! Apalagi orang-orang di list yang harus kita bunuh adalah orang-orang besar.” Satu dari sang anak buah itu memulai.
“Iya, ternyata bodyguard yang mereka sewa mahal itu masih kalah dengan kita. Seharusnya kita dapat bayar lebih dari boss. Iya kan?”, seorang lainnya menimpali.
“Ya, tentu saja. Aku tidak sabar menyelesaikan tugas ini, ini keren bro!”
“Betul! Apalagi besok kita harus menyelesaikan riwayat hidup seorang Kiki Umari. Lo tahu kan siapa dia? Ini bakal keren”, Alyssa tercekat. Kiki Umari? Itu kan ayahnya. Jadi, orang-orang itu juga akan membunuh ayahnya? Alyssa ingin pergi kesana dan menghabisi dua orang itu, tapi ia urungkan niatnya. Danau ini masih sepi sekali. Ini pukul 2 pagi, dan ia tidak mungkin bisa melawan dua orang yang bisa menghabisi om Riko sendirian.
“Bener banget!”
“Ayo cepat kita pergi, sebelum ada yang mengetahui keberadaan  kita!”
Kedua orang itu segera mengambil langkah pergi. Alyssa benar-benar tidak mampu bernafas saat ini, apalagi berdiri.
“Siapa orang itu? Kenapa ia tega membunuh om Riko dan akan membunuh papa?”, Alyssa menangis dalam diam.
Setelah kepergian orang-orang tadi  Alyssa segera pergi meninggalkan tempat itu.

                                                                ***
Drrrtt… Drrrtt…
“Errggh..”, Rio menggeliat dari tidurnya. 2:30 am. Siapa yang menelfon sepagi ini?
Alyssa? Rio mengangkatnya dengan malas.
“Hallo? Ngapain lo? Ini masih setengah 3 pagi. Tidur sana! Kangen lo sama gue sampai telfon sepagi ini?”, Rio mendecak kesal pada Alyssa.
Bukannya menjawab Alyssa malah sesenggukan di seberang sana. Rio heran sendiri dengan gadis ini. “ Lo kenapa Al?”
“Pergi ke kamar ayah sekarang!”
“Hah? Ngapain? Gue ngantuk Al. Kenapa nggak telfon langsung ke ayah sih?”
“SEKARANG!”
“Lo gila ya? Bisa budek nih telinga gue. Iya iya, bawel”, Rio berjalan ke kamar sebelah dengan sedikit mendumel.
Ayahnya tidak ada di kamar.
“Ayah nggak ada Al, mungkin lembur di kantor. Kenap……”
“Temuin gue di Taman Edelweis sekarang. Di bangku sebelah utara dekat sungai”
Tuutt… tuuut.. tuuuttt… sambungan diputus begitu saja oleh Alyssa.
“Eh? Apa? Halo Al? Al??”, Rio menatap handphone nya penuh kebingungan.
“Cewek gila! Ini jam 2 pagi dan dia ada di luar? Bener-bener gila”
Rio segera bangkit dari kasur, mengambil jaket dan kunci motor. Mencari keberadaan gadis yang ia anggap gila itu. Takut jika terjadi sesuatu dengannya.

                                                                ***
Rio memarkir motornya di dekat bangku yang dimaksud Alyssa. Gadis itu berdiri di dekat sungai, memeluk tubuhnya sendiri. Malam ini memang begitu dingin. Jelas saja ia kedinginan, Alyssa hanya memakai kaos lengan pendek dan celana skate favoritnya.
“Lo gila hah?! Bangunin gue jam segini Cuma buat jemput lo disini?”, Alyssa bergeming.
“Ini masih pagi buta Al, lo nggak liat? Ngapain sih lo sepagi ini kesini? Lo itu cewek. Kalau lo kenapa-kenapa gimana? Hah?! Pikir dong”
                Gadis itu tetap bergeming. Rio mencoba mendekatinya, Alyssa sedang melamun tetapi menitikan air mata. Rio semakin bingung.
                “Al, lo kenapa?”, Alyssa menoleh sebentar pada Rio.  Pandangannya kembali lurus ke depan.
                “Al, lo jangan bikin gue tambah takut deh. Ada apa?”, Rio melembut.
“Ayah lo dibunuh yo, dan target selanjutnya adalah papa gue”
1 detik….
                2 detik….
3 detik….
4 detik….
5 detik….
“Lo nggak lagi bercanda kan Al?”
“Apa gue kelihatan lagi bercanda?”
“Tap.. tapi …”
“Lo sudah lihat sendiri ayah nggak ada di kamar kan?”
“Bisa saja kan ayah sedang lem…”
“Kalau lo nggak percaya sama gue nggak apa-apa. Tapi gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, ayah lo ditembak mati dan dibuang ke danau oleh 3 orang pria.”
“Nggak mungkin Al…”
“Gue akan buktikan ke elo. Ayo ikut gue!”
Alyssa menarik Rio ke motornya, dan membonceng Rio yang masih bingung menuju danau.
Ketika sampai di danau, sudah banyak polisi yang menggerombol dan mengangkat mayat seorang pria dengan blazer hitam dari dasar danau. Lalu memasukannya ke kantong jenazah. Suara sirine ambulans dan mobil polisi bergema. Alyssa dan Rio berdiri sedikit jauh mengamati para polisi itu bekerja. Rio menatap tajam pada mayat itu, jelas sudah itu benar-benar ayahnya, Riko.
“Dan target selanjutnya papa gue.”, Alyssa menoleh kepada Rio.
“Gue turut berduka cita yo, Om Riko itu juga sudah seperti ayah gue sendiri. Gue sangat menyesal karena nggak bisa nolongin beliau, padahal gue ada di sana. Maaf yo, tapi gue juga takut kalau gue dibunuh oleh orang-orang itu. Maaf, kalau gue sudah bangunin lo sepagi ini. Maaf, gue harus pergi. Gue nggak mau papa gue jadi korban berikutnya. Gue harus sebisa mungkin mencegahnya.”
“Lo serius Al?” Rio mulai menangis. Ayahnya adalah orang terdekatnya, segala yang menyangkut ayahnya dalah hal besar dalam hidupnya.  Alyssa jadi enggan meninggalkan Rio.
Alyssa mengangguk.
“Maaf yo… gue… gu gue…”
“Kenapa lo nggak tolongin ayah gue Al? Kenapa?”
“Yo, maaf. Gue juga takut yo”
“Siapa pembunuhnya Al? Siapa ketiga orang itu? Bilang ke gue Al!”
“Gue nggak tahu yo, gue nggak kenal mereka.”, Alyssa mulai takut pada Rio yang semakin emosi.
“Gue yang telfon polisi buat  mengevakuasi jenazah ayah lo.  Hanya itu yang bisa gue lakuin. Maaf. Sekarang sebaiknya kita pulang.”, Alyssa menarik bahu Rio.
“Jangan sentuh gue Al!”
“Yo…”
“Atau jangan-jangan lo pembunuhnya Al?”, Rio menatap tajam gadis di depannya.
“Apa? Nggak mungkin yo!”
“Kenapa lo bisa sepagi ini disini hah?”
“Yo, denger. Gue nggak sengaja kesini, dan kebetulan sekali gue menyaksikan semua itu. Gue Cuma pengen jalan-jalan awalnya.”
“Alah… nggak usah alesan deh! Lo mengarang semua cerita itu, biar nggak ketahuan kan? Tiga pria itu orang suruhan lo kan?”
                “Yo, dengerin gue! Gue panggil lo kesini buat bantuin gue nemuin siapa pelaku pembunuhan itu. Ngerti? Gue nggak mau kehilangan papa gue yo.”
“Sedangkan gue sudah kehilangan ayah gue Al!”
“Maaf yo… Gue emang nggak bisa apa-apa yo”
                Rio langsung menaiki motornya dan meninggalkan Alyssa begitu saja. Emosinya meluap-luap.
                “Yo! Rio!”, Alyssa berusaha menghentikan Rio. Tiba-tiba bahunya ditepuk oleh tangan yang kokoh. Alyssa menoleh, wajahnya sudah pucat pasi sekarang.

 ***