Halaman

Minggu, Agustus 07, 2011

Memulai Microsoft Word

Untuk memulai menjalankan program microsoft word? Silakan ikuti langkah-langkah berikut :
1. Pilih tombol Start di pojok kiri bawah tampilan windows.
2. Setelah muncul tampilan menunya pilih Program, kemudian Microsoft Office dan Pilih
3. Microsoft Office Word 2007.


Unsur-unsur utama Layar Ms Word.
1. Judul Windows
Baris Judul Menampilkan nama file dan aplikasi Microsoft Word, nama file sebelum dirubah adalah Document1, Document2 dan seterusnya. Pada pojok kanan sebelahnya window terdapat button minimize, maximize
dan menutup aplikasi word.

2. Office Button
Digunakan untuk :
- Membuat file baru
- Membuka file
- Menyimpan file
- Mencetak
- Keluar dari word
Disebelah kanan office button terdapat button yang digunakan untuk menyimpan, Undo, Redo dan Customize Quick Access Toolbar.

3. Customize Quick Access Toolbar
Digunakan untuk menampilkan button2 yang diinginkan untuk tampil pada taskbar, sebagai contoh jika kita klik button open dan new document, akan muncul button tersebut pada taskbar. Sebagai tips, tampilkan button yang sering anda gunakan untuk mempercepat pengerjaan.

4. Menu
Setiap menu yang aktif (yang kita Klik) akan memunculkan toolbar dibawahnya.

5. Toolbar
Merupakan deretan tool-tool (gambar-gambar yang berbentuk tombol) yang mewakili perintah dan berfungsi untuk mempermudah dan mengefisienkan pengoperasian program.

6. Kursor
Kursor atau Insertion Point merupakan indikator tempat dimana teks akan muncul jika kita akan mengetik. Posisi ini perlu diperhatikan karena Ms Word menggunakannya sebagai dasar dalam melakukan suatu pekerjaan yang kita perintahkan.

7. Penggulung Teks
Untuk memudahkan dalam membaca suatu dokumen dengan menggulung layar vertical dan horizontal.

8. Memasukkan Teks
Setelah mengenal dasar-dasar layar Word, teks dapat langsung dimasukkan. Ada beberapa hal yang perlu diketahui:
* Tab digunakan untuk mengidentasi pada baris pertama.
* Word secara otomatis akan memulai baris baru sewaktu teks mencapai tepi kanan halaman.
* Apabila terjadi kesalahan mengetik tekan Backspace untuk menghapusnya.
* Tekan enter untuk menambah baris kosong.
* Titik Sisip (kursor) Digunakan untuk memulai memasukkan teks.
* Penunjuk Mouse bergerak dilayar sewaktu mouse digerakkan. Penunjuk ini tampak dalam bentuk huruf I atau panah.

9. Memperbaiki Teks
Ketika suatu dokumen dibuat, seringkali perlu memindahkan titik sisip untuk menambah atau menghapus teks di lokasi yang berbeda. Caranya sebagai berikut :
9.1 Menggunakan Mouse
Geser pointer mouse yang berbentuk I-beam ke posisi yang anda kehendaki pada area teks dan klik mouse. Jika posisi yang anda tuju tidak tampak, perlu menggulung ke lokasi yang diinginkan, gunakan panah atas dan bawah untuk naik atau turun satu baris. Gunakan panah double atas dan bawah (dibawah toolbar vertical) untuk naik atau turun satu halaman.

9.2 Menggunakan Keyboard
Jika anda menggunakan tombol pada numeric keypad, pastikan bahwa NUM LOCK dalam keadaan off. Perhatikan tabel berikut ini.Perpindahan Perintah
Satu karakter ke kiri ←
Satu karakter ke kanan →
Satu baris ke atas ↑
Satu baris ke bawah ↓
Ke akhir baris End
Ke awal baris Home
Naik satu layar Page Up
Ke bawah satu layar Page Down
Akhir dokumen Ctrl + End
Awal dokumen Ctrl + Home


10. Menyimpan Dokumen
Untuk menyimpan dokumen klik office button kemudian pilih Save atau klik button save pada Toolbar atau bisa langsung menggunakan keyword dengan menekan Ctrl + S dan akan muncul sebuah dialog, Kemudian pilihlah lokasi file (directory) pada bagian Save in:, ketiklah nama file pada bagian File name, kemudian tekan tombol Save. Sebagai latihan berilah nama pada file yang sudah diketik dengan nama Lat1.doc

11. Menutup Dokumen
Bila sudah selesai mengerjakan suatu dokumen dan sudah selesai menyimpannya, mungkin perlu menutup dokumen dan setelah itu mengerjakan dokumen lain. Klik office button dan pilih Close.

12. Membuka Dokumen
Untuk membuka dokumen klik office button dan pilih Open, Word akan menampilkan dialog box, kemudian Anda carilah directory dan Folder Yang menampung file yang akan dibuka pada bagian Look in lalu klik file yang akan dibuka kemudian tekan button Open maka file anda akan ditampilkan dilayar Word. Sebagai latihan, bukalah kembali file Lat1.doc yang sudah dibuat tadi.

Sejarah Ms. Word

Modul Tutorial MS. Word 2007 – Microsoft Office Word merupakan perangkat lunak andalah Microsoft yang berfungsi sebagai pengolah kata. Banyak terdapat fasilitas dalam software ini, yang mampu menunjung berbagai keperluan bagi para penggunanya, mulai dari pengetikan text, penyusunan naskah atau pun proposal, laporan, karya ilmiah, surat lamaran kerja dan pembuatan diagram atau tabel serta menyisipkan berbagai objek gambar dalam tulisan.

Dalam catatan sejarah, microsoft office word pertama kali diterbitkan sekitar tahun 1983, dimana pada waktu itu namanya Multi-Tool Word untuk Xenik. Seiring dengan perkembangannya, maka munculah versi-versi terbaru lainnya untuk berbagai sistem operasi, seperti DOS (1983), Apple Macintosh (1984), SCO UNIK, OS/2, dan Microsoft Windows (1989) dan setelah menjadi bagian dari Microsoft Office System 2003 dan 2007, kemudian diberi nama Microsoft Office Word.

Sampai saat ini, mayoritas pengguna komputer menggunakan microsoft ofiice word 2007, namun karena MS. Word 2007 masih terbilang baru, maka banyak dari mereka yang masih kebingungan dalam mengoperasikan program tersebut. Untuk itu, lewat artikel ini, duniabaca.com bermaksud berbagi modul tutorial microsoft office word 2007 lengkap dengan sejarah perkembangan microsoft word.

Rabu, Agustus 03, 2011

Senyummu mengalihkan duniaku (cerpen copas)

SENYUMU MENGALIHKAN DUNIAKU

Aku melihatnya, hanya melihatnya. Aku memandang dirinya, hanya dirinya. Aku tak tau betapa lama aku terperangkap dalam pesonanya. Aku menyukai sosoknya yang ceria dan penuh senyum sepanjang waktu, sehingga membuat diriku yang pemalu ini semakin percaya diri. Senyuman tulusnya memberikan kehangatan bagiku. Dialah Ahmad Fauzi Adriansyah.

Ahmad Fauzi Adriansyah, atau yg sering dipanggil ozy adalah teman sekelasku di kelas 8c, SMP Ochalova (ngarang, tpi gpp kan?). Setiap pagi, senyuman indahnya selalu tampak didalam kelas. Seperti pagi ini.

"Pagi semua.." ucap Ozy bersemangat dengan senyuman manis terukir dibibirnya.

"Ih.. Berisik banget sih Zy.." sahut Agni dengan tampang menyebalkan bagi Ozy. Tapi ozy tau Agni hanya bercanda.

“Ckck.. Dasar sirik. Hehe. Pagi Achaaa.." ujarnya semangat kepadaku. Senyuman manis masih terpampang jelas diwajahnya.

Aku blushing, "Pa...pagi zy.." jawabku gagap.

Dia tersenyum, "Acha.. Kamu masih belum berubah ya"

Perkataannya membuat pipiku semakin memerah, 'Dia tau segala perkembangan sifatku. Ah, ternyata dia juga memperhatikanku'. Aku melihatnya dia menuju bangkunya.

Teet.. Teet..

"Jadi.. Untuk mencari area dari bla bla bla" Pak duta kembali menerangkan pelajaran matematika yang membosankan. Padahal materi itu sudah diterangkan minggu lalu. Karena bosan, aku hanya ingin melihatnya.

DEG!

Degup jantungku semakin kuat berdetak. Tak disangka, saat itu juga Ozy sedang menatap wajahku. Dan lagi2, wajahku memerah. Aku segera memalingkan wajahku kearah lain, aku malu. Malu karna wajahku sudah semerah tomat yang sering kumakan.

Teet.. Teet

bunyi bel tanda istirahat berbunyi. Sebagian memilih keluar, dan beberapa lagi memilih membaca buku ataupun tidur di dalam kelas. Aku bersama sahabat2ku, Nova, Agni dan Ify lebih memilih untuk pergi ke kantin. Mereka semua tau kalo aku menyukai Ozy. 1 kelas pun tahu, Bukan! Bukan 1 kelas! Bahkan 1 sekolahan itu tau kalo aku menyukai Ozy, kecuali ozy itu sendiri.

"cha, aku bener2 bingung deh. Kok bisa2nya ya kamu suka ama cowok hiperaktif kaya' Ozy itu?" tanya Nova serius setelah Nova menenggak jusnya.

Pertanyaan Nova membuatku blushing.

"Ah.. I..itu.. Aku gak tau. Mencintai seseorang gak harus ada alasannya kan?" jawabku seadanya.

“Sepertinya kamu benar2 cinta ama Ozy ya?" tanya Nova lagi.

Blushing. Pipiku kembali memerah. Aku tidak menjawab pertanyaan Nova. Tak perlu. Karna, sekalipun aku gak menjawab, mereka pasti sudah tau jawabannya.

"Lho Nova.. Kamu ndiri gimana? Gimana kelanjutan hubunganmu dengan Lintar?" kali ini Agni bertanya pada Nova.

Dan sekarang, giliran Nova pipinya memerah.

"Ah, soal itu.. Hmm.. Kemaren Lintar menembakku dan sekarang kami jadian" jawab Nova malu2.

"Apa!? Wah, knapa gak bilang2? Waduh asyik! Nova bakal traktir kita2 nih!" timpal Ify kegirangan.

"Eh..eh.. Tapi..."

Belum selesai Nova ngomong, Agni menimpal, "Asyek asyek.. Uang jajan hemat.. Thanks y Nov".

Nova pun hanya mengangguk2 pasrah, pasrah isi dompetnya akan terkuras habis hari ini.

Teet.. Teet..

Bunyi bel tanda pulang menggema. Aku segera menuju ke bangku taman sekolah untuk menunggu kakakku, Rio.

Brum.. Brum..

Bunyi motor Kak Rio terdengar jelas olehku. Aku bangkit berdiri. Tapi, aku lihat Kak Rio membonceng seseorang. Lebih tepatnya cewek. Dan cewek itu sepertinya sangat kukenal, "Ify!".

"Hmm.. Maaf ya cha. Kakak gak bisa ngantar kamu pulang. Karna kakak pengen ngantar Ify pulang, karna sebelumnya kami ada urusan. Jadi Acha gak pa2 kan pulang sendiri?" tanya kak Rio, meminta pendapatku.

"Hmm.. Gak pa2 kak. Aku kan bukan anak kecil lagi. Aku bisa kok pulang sendiri" jawabku ikhlas.

"Kalo begitu, bagaimana klo aku aja yg ngantar Acha pulang?" sebuah suara mengagetkan kami ber-3. Kami ber-3 pun menoleh kearah sumber suara.

"Ah.. O..zy" jawabku gugup.

"Lho. Kok gak ada yg jawab pertanyaanku? Bagaimana kalau aku aja yg ngantar Acha pulang?" Ozy kembali bertanya sekali lagi.

"A..aku gak mau merepotkanmu, Zy.." jawabku ragu2.

"Ah.. Gak.. Gak merepotkan sama sekali. Bahkan aku merasa senang bisa mengantarmu.." timpalnya dengan mantap. Senyuman kembali tersungging diwajahnya.

'Apa? Apa katanya? Dia malah senang mengantarku? Oh Tuhan. Apa ini mimpi? Tolong jangan bangunkan aku. Bukan! Ini bukan mimpi! Ini kenyataan!' batinku senang.

Aku melihat kearah Kak Rio, seakan bicara, 'Kak, bagaimana ini?'. Kak Rio mengangguk, Ify pun ikut mengangguk setuju.

"Ok cha. Kami pergi dulu. Eh Zy, jagain adek gue! Awas lho, jangan macem2!" pesan Kak Rio tegas. Dan kak Rio dan Ify pun berlalu.

“Cha, ayo cepet naek ke motorku.." ujarnya sambil mengajakku naik dg senyuman manisnya.

"I.. Iya.." jawabku dg wajah semerah tomat.

'Oh Tuhan! Terimakasih atas segala yg Kau beri kepadaku hari ini', batinku senang.

"Oke.. Siapa aja yg stuju?" tanya Debo, ketua kelas 8c didepan kelas.

Semua angkat, termasuk aku. Memang, kelas kami akan mengadakan perpisahan dg anak kelas 9. Dan kami telah merencanakan pesta kecil2an disebuah kafe dekat sekolah.

"Oke. Sepertinya semuanya setuju. Baiklah, utk biayanya kita memakai uang kas. Dan bagi yg blum bayar, silahkan bayar sekarang juga."

kalo boleh info, sekolah ini ada sekolah yg lumayan elit. Jadi, klo untuk byar kas kami slalu tepat waktu.

"ok. Nanti pulang sekolah bagi pengurus kelas harap rapat dulu." lanjut Debo lagi. Jadi, hari ini sudah pasti aku akan pulang terlambat, aku pun langsung mengirim sms pada Papa dan Kak Rio.

To skip --->

"Baiklah. Sepertinya rapat hari ini sudah selesai. Kalian sudah mengerti?" tanya debo menutup rapat hari ini.

"Mengerti!" jawab mereka serentak.

Tiba2 sakuku bergetar. Aku segera mengambil hpku. Aku melihat 1 pesan masuk.

From : Kak Rio 'bawel'

Cha, sepertinya hari ini kakak gak bisa menjemputmu. Dan Papa katanya juga lagi sibuk. Jadi bagaimana kalau kamu diantar Ozy aja? Ok?

Salam untuknya ya ^^

'Aduh.. Bagaimana ini? Gimana caranya aku bilang ama Ozy?' batinku panik.

Tiba2.. "Hai cha. Kok sendirian? Kamu gak dijemput?" tanya Ozy penuh perhatian.

"I..iya.." jawabku gugup dg wajah yg telah memerah.

"kalo begitu mari aku antar" ajak Ozy lembut.

"Ah.. Baiklah.."

hari2 kulalui denganmu dg perasaan tenang dan gembira.

hari perpisahan telah tiba.

"Oke. Acara berikutnya adalah dansa" ucap Debo selaku MC pesta itu.

Hah, aku paling benci dansa. Karna palingan tidak ada yg mau ngajak aku dansa. Aku melirik, Nova bersama Lintar, Agni dg cakka, dan Ify dg Kak Rio yg kupaksa tadi..

Kalau aku siapa? Ozy? Mana mungkin dia akan mengajaku.

"Cha. Kamu gak dansa?" tanya Ozy tiba2 datang.

"Enggak. Gak ada yg ngajak aku dansa" jawabku pendek.

"Kalau begitu bagaimana kalo kita aja yg dansa berdua?" ajaknya.

"Ha? Dansa denganku?" aku malah bertanya padanya.

"iya. Sebenarnya didansa ini gak ada yg mau kuajak." jawabnya sambil menggaruk2 kepala.

"Trus, kok kamu ngajak aku?" tanyaku innocent.

"Karna cuma kamu yg ingin aku ajak. Tadinya kupikir, kamu ini udah diajak org lain. Tapi, ternyata dugaanku salah. Hmm, tuan putri, maukah engkau berdansa denganku?" ajak Ozy seraya menjulurkan tangannya.

Acha ragu2 meraih tangan Ozy, tapi akhirnya Acha diseret halus ke lantai dansa.

Alunan musik dansa yg merdu menghiasi ruangan itu. Aku pun menikmatinya dengan Ozy. Saat berbalik, ozy membisikkan sesuatu kepada telingaku "Love You.."

aku tersentak. Aku berharap gak salah dengar, "A..apa zy?"

Ozy menghentikan gerakannya. Dia lalu jongkok dg salah 1 kaki tegak.

"Cha, would you be my girlfriend?" ucap sungguh2 sambil menjulurkan tangannya padaku.

Aku benar2 salting saat itu. Wajahku entah semerah apa saat itu.

Semua org yg berdansa saat itu berhenti. Melihat bagaimana jalan penembakan ozy padaku.

“Cha. I love u. Would u be my girlfriend?" ulangnya lagi dg suara lebih keras. Aku mencoba mencubit pipiku sendiri. Sakit! Berarti benar aku gk mimpi.

"Hm.. I.. I love u too."

senyuman indahmu mengalihkan semua pikiranku. Menambah sejuknya hatiku. Ozy, senyummu mengalihkan duniaku.

end

R.I.O = Rising-star Is On-the-way (copas)

R.I.O = Rising-star Is On-the-way



Seorang gadis mondar mandir ga jelas sambil berkali kali menggigit bibirnya dan melipat tangannya di dada, beberapa meter di depan sebuah pintu ruang audisi, wajahnya terlihat sangat
cemas.

Capek mondar mandir, gadis itu, Ify menyandarkan tubuhnya di tembok, masih menunggu, beberapa menit kemudian pintu audisi terbuka, Ify mundur sedikit, satu manusia bukan, bukan dia…, dua manusia
ah bukan juga… tiga… empat… lima
kenapa orang orang ini mukanya pada asem… enam… tu… Nah itu dia!

“Rioooo… gimana yo, gimana???” Tanya Ify yang langsung menarik tangan Rio, (ga enak juga di depan pintu) dengan semangat empat lima.
Rio tersenyum, lalu mengeluarkan sesuatu dari
balik jaketnya sambil nyengir lebaaarrr.

“Gua masuk 42 besar Fy!” Kata Rio sumringah sambil menunjukkan sebuah bintang berwarna silver mengkilap yang terbuat dari semacan karton yang mengkilap (mungkin) dan di tengahnya ada
tulisan yang seperti hologram; Welcome to My Idol 3.

“Waaaaa… Riooo!!! Selamet ya Yoooo…” Ify histeris dan langsung meluk Rio saking senengnya *Fy… gentian ama penulis donggg…*

“Iya… akhirnya, mimpi gue kejadian juga Fy…”

“Tapi ini masih permulaan, Rio, jalan masih panjaaanggg…”

“Iya! Karena gue lagi baek, gue traktir lo deh, Yuk!”

#####



Ify mencengkram lengan Iel kuat kuat demi melenyapkan kegugupannya.

“Tenang Fy…” Gabriel berusaha untuk menenangkan adik kembarnya.

“Kalian siap?” Rio meyakinkan. Ify dan Iel mengangguk mantap. Ketiga orang itu langsung masuk ke dalam rumah Rio.



“Ma… Pa…” Panggil Rio, kedua orang tuanya saat itu sedang berbincang bincang di ruang tengah “Eh, Rifyel…” Kata mama Rio. Rio
tersenyum kecil setiap mamanya memanggil mereka dengan sebutan seperti itu.

“Ada apa, Yo?” Tanya ayah Rio.

“kami mau ngomong, pa…”



Mario Stevano Aditya, memang sejak kecil dia bermimpi untuk menjadi seorang pemusik. Tapi kedua orangtuanya sangat tidak menginginkan Rio untuk terjun di dunia entertain, Ortu Rio lebih menginginkan
Rio untuk menjadi seorang dokter, bukan pemusik, karena menurut mereka masa
depan Rio tak akan terjamin bila dia menjadi seorang pemusik, apalagi hal hal
negative dunia entertain seperti yang selama ini mama Rio lihat di infotaiment.
Jangan sampai itu semua menerpa Rio, anak
tunggalnya.

Untungnya Ify dan Gabriel, sahabat Rio selalu mendukungnya dan memberikan Rio semangat. Karena mereka tahu, Rio memiliki bakat yang sangat besar dibidang
musik, mungkin bukan hanya musik, menurut Ify, Rio
memiliki wajah yang diatas rata rata. Siapa tahu Rio
bisa jadi coverboy atau semacamnya?? Ify pulalah yang menyarankan Rio untuk
ikut audisi My Idol 3 ini, tapi, setelah Rio mendapatkan Silver Card, Ify dan
Rio malah bingung, bagaimana cara membuat orang tua Rio
mengizinkannya mengikuti My Idol?

Dan Akhirnya, malam ini, Ify, Iel, Rio memutuskan untuk berbicara kepada ortu. Mereka sdikit ragu, tapi, Rio harus berhasil.



mereka berdebat panjang. Ayah Rio sempat meledak ketika Gabriel mengatakan bahwa Rio mengikuti audisi itu. Tapi akhirnya, Orang tua Rio
luluh juga. Demi putra tunggalnya. Dengan syarat: Rio harus menang, atau jangan
harap Rio diperbolehkan bermusik lagi, dan juga sekolah Rio tidak boleh sampai
terbengkalai, karena Rio masih duduk di bangku
kelas XI. Rio lega, dia berjanji dalam hati
untuk memenangkan ajang pencarian penyanyi berbakat itu.

#####



Rio berhasil melewati babak pra finalis dengan mudah, dengan modal suara lembut, kemampuan bermain musik, dan wajah yang, ehm. Ganteng, itu ga akan terlalu
sulit. Sejak Rio menjadi finalis My Idol, Rio
pun harus bolak balik Jakarta-Bogor. Sekolah Rio pun agak terganggu juga, dalam
seminggu Rio hanya dapat masuk sekolah 2-3
hari. Untung Ify selalu membantu Rio mengejar
setiap ketinggalannya.

4 Bulan berlalu, dengan usaha mati matian Rio akhirnya Rio memenangkan ajang pencarian bakat tersebut! Dan tentunya, kedua sahabatnya ikut ambil andil dalam
kemenangannya. Ify dan Iel-lah yang sibuk berkampanye sejak awal awal Rio muncul di 42 besar. Dan, orang tua Rio
juga bangga kepada anak semata wayangnya itu. Ternyata selama ini mereka salah
mengira bahwa Rio hanya iseng iseng suka
bermusik. Tapi ternyata Rio serius.

Dalam sekejap, popularitas Rio menanjak setelah memenangkan My Idol. Jam terbang Rio semakin padat. Akhirnya malah Rio tidak hanya menjadi seorang pemusik, melainkan juga seorang bintang iklan, dan coverboy :) sebenernya Rio ingin menolak, tapi tawaran
yang datang begitu banyak. Akhirnya Ify menyarankan untuk tidak menyia nyiakan
kesempatan tersebut. Dan oleh karena banyaknya aktivitasnya itu, Rio memilih
untuk pindah ke Jakarta
demi kelancaran karirnya. Begitupun sekolahnya.

#####



Hujan. Begitulah cuaca Bogor siang sini. Baguslah, daripada panas?

Ify memencet mencet remot TV tapi ga ada satu pun yang menarik perhatiannya. Sampai akhirnya jempol Ify berhenti memencet di sebuah stasiun…



“Guys, tau Mario Stevano kan??” kata seorang presenter cowo acara… musik sih sebenernya, yang bawain juga sepasang remaja yang tengil abis. tapi tetep ada segmen gosipnya gitu.

“tau lah… pacar gue itu sih…” Kata presenter cewe centil.



Dimana idola, disitu ada fans. Ya… otomatis dengan ketenaran Rio sekarang, fans Rio pun ada dimana mana, terutama gadis remaja, nama fans Rio disebt RISE.
Awalnya, Ify seneng banget mengetahui sahabatnya sukses, tapi lama kelamaan,
Ify merasa tersingkir dengan kehadiran fan fans penggila Rio.
Padahal itu hanya perasaannya saja. Rio tak
pernah melupakan kedua sahabatnya. Mungkin memang Ify yang terlalu sensitive.
Oke, Ify kembali memerhatikan acara tersebut.



“idih… ngaku ngaku ya lo… Nih, kemaren, tim Star Music and News berhasil mewawancarai Rio di sebuah restaurant, dan saat itu, Winner of My Idol season 3 ini sedang bersama dengan…
Ehm, tahan nafas ya RISE, seorang cewe yang diaku Rio
sebagai pacarnya!”

JEDERR. Suara petir itu, kan lagi ujan. Ify merasakan sesuatu yang menohok jantungnya.



“Huwaaa… siapa yang ngambil Mario gue??” kata presenter ceweknya.

“Lebe deh, Lo, Nov… dan ceweknya Mario ini, tau siapa? Seorang model baru bernama Ashilla.”

“Huhuhu… gue mau nyebur sumur deh abis ini.” Kata presenter cewe itu sambil menangis Bombay.

“Oke guys, yuk capcus kita lihat aja liputannya, biarin deh si Nova nyebur sumur, kan honornya lumayan buat gue…”

“enak aja! Ga jadi nyebur sumur gue. Oke Guys. Liputan Rio dan pacar barunya menutup Star Music siang ini, dan Habis liputan Mario ini, kami akan memutar satu Video Clip dari… Vierra with Perih.”

“Patton Otlivio dan Nova Sinaga undur diri, sorry kalo ada salah kata, kami berdua bakalan balik lagi besok di jam yang sama, so…”

“See you…” Patton dan Nova kompak.



Setelah itu, Ify memerhatikan liputannya. Dan memang benar. Pacar baru Rio, Cantik. Rio duduk di sebuah kursi, dan Ashilla di sampingnya sambil menggmit
lengan Rio manja dan tersenyum malu malu
najong. Satu kalimat Rio, menghancurkan hati
Ify.

“Iya… kami memang baru jadian…”



Ify langsung mematkain tivinya. Ga tahu kenapa, air matanya menetes. Di belakang, tanpa diketahui Ify, Gabriel sudah berdiri di sana
sejak tahun lalu. Gabriel pun langsung menepuk pundak Ify pelan. “Gue tahu
perasaan Lo, Fy…”



F-Y-I. Ify menyukai Rio sejak SD. Makanya dia seneng seneng aja sewaktu ngebantuin Rio. Tapi dia tulus kok, ngebantuinnya. Ify juga seneng mengetahui Rio
berhasil meraih yang diinginkannya selama ini. Tapi yang barusan itu… Pacar
Rio? Ashilla Zahrantiara. Cantik banget, tipe tipe yang Angelic Face gitu. Tapi
kok berasa aneh ya sama Shilla,

#####

1,5 Bulan kemudian…



Rio memarkir mobilnya di depan rumah Shilla. Setelah melihat bayangan nya di cermin dalam mobil dan memastikan dirinya benar benar rapi, Rio
keluar dari mobilnya. Hari ini, Rio mendapat
jatah libur sehari dari managernya. Ya, hanya sehari. Tapi ini sudah merupakan
anugrah untuk Rio disela sela kesibukannya.

Rio melangkah menuju pintu rumah Shilla. Jari telunjuknya sudah nyaris menekan bel rumah, tapi Rio mengurungkan niatnya karena
mendengar sesuatu di dalam rumah Shilla. Rio
menajamkan pendengarannya. Sepertinya ada tamu, teman Shilla mungkin.

“Pliss dong, kamu percaya sama aku…” sayup sayup terdengar suara Shilla.

“Iya, Shill, tapi sampai kapan??” suara siapa tuh? Suara cowok. Rio berusaha mengintip dari jendela, tapi tak terlihat, mungkin suaranya dari ruang tengah. Rio memmutar handle pintu dan ternyata tidak dikunci. Rio melangkah pelan tanpa menimbulkan suara, masuk ke
rumah Shilla. Rio heran, ngapain juga musti
kayak maling di rumah pacar sendiri? Eh… STOP! Rio
tercengang melihat siapa yang ada di ruang tengah. Rio
mundur satu langkah, lalu sedikit bersembunyi di balik tembok.

“Kamu tau rencana aku dari awal kan?” Kata Shilla lembut kepada cowo yang duduk di sebelahnya, Shilla sedikit memutar posisi duduknya agar bisa menghadap cowok itu.

“Bukannya kamu sudah dapet yang kamu mau? Terus, ngapain kamu masih sama Rio itu?”

“Belum, Oke karir aku memang sedang menanjak, tapi aku masih butuh Rio…”

“Tapi kamu beneran cuma manfaatin Rio kan?”

“Ya ampun sayaanggg…” Shilla menggenggam erat satu tangan cowo itu. “Aku kan udah bilang berkali-kali. Aku ga ada rasa apapun sama Mario! Ga ada Vinn… aku pacaran sama dia, hanya untuk ngedongkrak
popularitas aku, dia kan
lagi sukses suksesnya. Dan, kamu liat sendiri kan hasilnya??” Rio
ternganga. Tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.

“Oke aku percaya, tapi, kamu harus segera menyelesaikan semuanya, bisa mati kepanasan aku Shill, liat gossip gossip kamu sama Rio setiap hari di
infotaiment.” Kata cowok itu sambil mengacak acak rambut Shilla mesra.

Sementara Rio? Mukanya cengo, ga salah liat dan denger kan?? Batinnya. Sialan! Ternyata selama ini Rio
tertipu dengan kecantikan Shilla. Pantesan, selama ini Rio
merasakan sesuatu yang janggal dihatinya selama berpacaran dengan Shilla. Oke,
kali ini, Rio pantas untuk marah. Tapi
sayangnya, Rio bukan tipe cowo yang gampang
meledak.

Dengan langkah tenang, Rio memasukki ruang tengah. Suara langkah kaki Rio membuat Shilla dan cowo yang duduk di sebelahnya menoleh. Dan masing masing langsung melepaskan genggaman tangannya. Keduanya sama sama kaget.

“Hay, Shill…” Kata Rio santai sambil melirik cowo yang sedang gugup di sebelah Shilla, sepertinya Rio pernah liat, siapa ya?

“Rrr…Rio? Sejakkapankamudisitu?”

“Ga usah gugup gitu kali, Shill… ada paan sih?” Rio sok ngak tau apa apa.

“Kamu sejak kapan ada di situ?…”

“Sejak…” Rio mengingat ingat sambil lirik lirik ke penulis minta diliatin naskah yang tadi. Karena penulisnya lagi baik hati, aku liatin deh… “Sejak kamu bilang, Kamu tahu
rencana aku dari awal kan?”

Shilla diem, Alvin diem, Rio? Tersenyum sinis.

“Kok, pada diem seeh? Ga asik ah kalian, ya udah, gue cabut deh. Bye …” Rio berbalik lalu melambaikan tangannya sambil tersenyum puas kerena telah berhasil
membuat kedua orang tadi kicep. Eh eh tapi, tapi kok ada yang aneh. Batin Rio. OH! Kok Shilla ga ngejar ya? Biasanya kalo di novel
novel Shilla nya ngejar ngejar gitu. Ah Boam.

Rio langsung masuk ke dalam mobilnya, pake banting pintu lagi! Biar keliatannya sangar geto… Rio memukul keras pinggiran setir
mobilnya. Kesel juga dia. Tauk ah! Rio lalu
menstater mobilnya. Dan meninggalkan rumah Shilla perlahan dengan perasaan…
Kecewa (?) Rio sempat melirik ke kaca spion
mobil. Nah loh? Ngapain Shilla baru ngejar sekarang? Telat amat!

Rio merutuk dalam hatinya. Kok bisa bisanya dia ketipu ama cewe yang model kayak Shilla gitu… apa dipelet ya? Kok Rio bisa nyampe jadian sama Shilla. Tapi dulu
waktu awal awal kenal, Shilla itu ramah, baik, perhatian pula. Taunya itu
sekedar topeng belaka. Di tengah kekesalannya, tanpa sadar, Rio
mengarahkan mobilnya ke arah… Bogor??

#####



Wewegkk… Wewegkk…



Rio tersenyum mendengarkan suara kodok yang cempreng itu, yang tak lain tak bukan adalah suara bel rumah Ify.

Rio menatap bayangannya sekilas di kaca jendela rumah Ify. Rio lalu mendesah pelan. Jaket item, Topi putih, kaca mata hitam, penutup jaketnya
dipake pula. Mau maen ke rumah sahabat yang udah sekian bulan ga ketemu aja
musti kayak gini…

CEKLEK, suara handle pintu yang diputar membuyarkan lamunan Rio. Gabriel nongol, dan mlongo sejenak, kok ada ninja nyasar gini…

“Maaf, siapa ya?” Tanya Iel sedikit ragu sambil (sok-sokan) memerhatikan muka orang yang berdiri di depannya, sebagian wajahnya ketutupan kacamata yang segede piring yang biasanya kalian
semua pake buat makan (Oke, aku ngaku kalo bagian ini lebay).

Rio bengong. IEL GA NGENALIN GUE! Rio masih cengo untuk beberapa saat.

“Yaelah sob! Biasa aja kaleee… jelek tau muka lo kalo gitu!!” Iel terkekeh. Sial. Rio lupa kalo kakak kembar Ify ini pinter acting dadakan. Iel langsung merangkul Rio dan masuk ke dalam rumah. “Sibuk banget Lo ya!! Sampe
ga inget kita kita!!” Iel menonyor kepala Rio.
Rio hanya nyengir.

“Makanya gue ke sini El,, mumpung libur!”



“Iel… itu tadi ada yang mencet bel sia…” Ify ternganga dan cengo sejenak melihat siapa yang sedang dirangkul Iel.

“Hay Iffyyyy…” Rio melepaskan rangkulan Iel, lalu membuka kedua tangannya lebar lebar.

“RIOO!!” Ify lalu memeluk Rio erat kayak sahabat yang udah lama ga ketemu (nah, emang kan???).

#####



“Oh… gitu, Yo… tapi kok, lo baru putus sama cewe biasa aja ya mukanya??”

“Maksudnya?”

“Kan biasa yang namanya baru putus itu mukanaya lecek ato gimana… gitu. Nah, Rio teh mukanya biasa?”

“Iya juga ya… kok gue baru nyadar Fy, harusnya gue sedih ya? Emang sih, harusnya gue sedih, tapi… tauk ah! Barangkali gue emang sebenernya ga beneran cinta sama model alay itu.”

“La terus? Ngapain lo pacarin Shilla?”

“Nah itu dia! Gue juga bingung. Di pelet kali yagk gue?



Rio menceritakan semuanya kepada Ify. Di sini, di tempat biasanya Rio, Ify dan Iel main. Sebuah danau kecil yang ga begitu jauh dari rumah Ify. Hari
sudah lumayan gelap, jam setengah delapan malam. Tadi, Rio sempat numpang makan
malam di rumah Ify, dan mampir dulu bentar di rumah orangtuanya, secara Rio kan di Jakarta
ngontrak, tinggal sama managernya doang.

Rio berbaring dengan tangannya ditaruh di belakang kepala sebagai bantal, matanya sibuk mengamati bintang bintang yang bertaburan bak ketombe di rambut orang
yang sebulan ga keramas *ah! Ga banget deh perbandingannya!* sedangkan Ify
duduk di sebelahnya. Seharusnya Iel juga ada di sini, tapi belakangan ini Iel
punya pekerjaan sebagai seorang penyiar radio. Dan malam ini, jadwal Iel untuk
siaran.



“Ngawur lu Yo… jaman gini masih ada ya pelet-peletan??”

“Ntuh, Shilla buktinya.”

“Ngapain juga dia pake pelet peletan gitu ya? Shilla kan cantik…”

“Luar doang. Dalemnya enggak.” Kata Rio. Hening sejenak…



“Eh, Fy… gue ga berubah kan??” Rio bangkit, mengganti posisinya menjadi duduk.

“Maksud lo?”

“Ya… gue kan sekarang jarang banget ngmpul sama Lo, sama Iel juga…”

“Ngomong apaan sih, Yo?? Kita semua seneng lagi, kalo lo bisa sukses, kan ini yang lo pengen… tapi sekolah lo gimana, Yo??”

“Ya ga gimana gimana, gue emang nyuruh manager gue untuk nerima job diluar jam sekolah aja… ya, paling ngga gue masuk sekolah sekitar 4 hari seminggu. kan
ga ada yang Bantu gue nulis catatan Ify…”

“Jiah… lo tu ye…” Ify menonyor kepala Rio.

“Thanks ya, Fy… selama ini lo yang Bantu gue. Gue jadi bisa kaya sekarang ini…”

Ify tersenyum. Jantung Rio ga tahu kenapa berdetak lebih cepat melihat senyum Ify barusan.

#####



Beberapa bulan kemudian… @Artist room



“Udah yo… uda ganteng kok…” kata Ify sambil mengamati penampilan Rio yang emang keren, kemeja hitam lengkap dengan jas putih dan digulung se-siku, sepatu
putih, celana putih, dan dasi putih
juga. Ganteng. Batin Ify.

“Nerves nih…” kata Rio dengan raut muka gelisah.

“Kan Lo udah biasa tampil Yo…”

“Tapi ini kan konser tunggal gue yang pertama Fy, yang dataeng banyak lagi…”



“Rio, spuluh menit lagi…” Kata manager Rio, Rio hanya mengangguk semakin gerogi.

“Good Luck ya Yo… gue nonton lo di bangku paling depan…” Kata Ify sambil tersenyum manis. Ya elah, si Ify, udah tahu Rio lagi nerves malah disenyumin. Kacao
kacao.

“Eh iya Fy…” Rio menahan Ify sejenak sambil merogoh saku jas-nya. Ify menunda langkahnya menunggu apa yang akan diucapkan Rio.
“Kemaren- kemaren, pas hunting kostum, aku liat ini, kayaknya cocok Fy sama
lo…” Kata Rio sambil menunjukkan jepit rambut berbentuk bintang laut berwarna
putih. Tanpa menunggu komando dan tanpa berkata apa apa Rio
langsung melepas ikatan rambut Ify dan memasang jepit tersebut di salah satu
sisi rambut Ify. Ga tahu aja tuh si Rio kalo
Ify jantungnya udah lari marathon, pipi Ify pun memanas.



“Woy, Fy, ngapain lo masih di sini…” Gabriel masuk, memecah suasana yang lagi ehm, gimana ya…

“Ya udah, Yo… duluan ya? Thanks jepit rambutnya…” Kata Ify, menepuk bahu Rio lalu menggandeng lengan Iel, keluar dari ruangan tsb. Ify, Iel, dan keluarga
Rio memang mendapat akses bebas keluar masuk artist room ini, atas permintaan Rio tentunya.

Rio menghela nafas.

“Kayaknya gue udah yakin sekarang deh Fy…”

#####



Konser dimulai, yang nonton bejibun ternyata… Iyalah, orang tiket konsernya aja udah ludes sebelum genap 2 hari di jual. Ga heran kalo ruang konser yang lumayan luas ini penuh, nyaris ga ada
kursi kosong lagi.

Lagu demi lagu selesai dinyanyikan Rio dengan perfecto, berkali kali terdengar riuh tepuk tangan dan teriak teriakan memanggil nama Rio saking
terpesonanya memenuhi seantero ruangan konser. Padahal Rio saat itu baru kelas
3 SMA. Waktu dua jam konser seorang Mario Stevano ternyata terlalu singkat.
Sampai lagu terakhir…

Seluruh ruangan gelap untuk sekitar 10 detik. Bukan! Bukan listriknya mati. Tiba tiba lampu menyala, redup, dan lampu sorot mengarah ke Rio yang saat itu
sedang duduk tepat di tengah panggung, memangku gitar akustiknya, senjatanya
dulu sewaktu audisi My Idol. Di depannya sebuah standing mic yang di tiang
penyangganya ada setangkai mawar merah yang diikat dengan pita berwarna silver.

“Lagu terakhir, Rio persembahkan untuk seseorang yang selalu ada untuk Rio, dan udah bantuin Rio, sampai seperti sekarang ini…” teriakan histeris cewe cewe penggemar Rio
membahana. Pertanda iri dengan gadis yang dimaksud Rio.
Ify tersenyum, jantungnya berdetak cepat. dag dig dug DUARR. Suasana kembali
hening begitu Rio memainkan jarinya diantara
senar senar gitar. Solo gitar. Matanya menatap lurus ke arah… Ify?



“Menatap indahnya senyuman, di wajahmu, membuatku terdiam dan terpaku…” Tepuk tangan terdengar lagi, padahal baru satu kalimat yang Rio ucapkan. Lagu terus
berlanjut dan sukses membuat semua orang berdecak kagum. Ify pun tesenyum
menyadari tatapan mata Rio tertuju padanya.
Lagi suasana romantis kayak gitu, pundaknya dijawil orang yang duduk di
sebelahnya.

“Cie Ify…”Goda Iel yang langsung disambut dengan tonyoran dari Ify. Merusak suasana deh…



Lagu masih berlanjut sampai reff terakhir:



“Aku ingin engkau slalu… hadir dan temani aku… di setiap langkah… yang meyakiniku, kau tercipta untukku… meski waktu akan mampu, memanggil sluruh ragaku…” Rio
menghentikan lagunya. Semua mangkel. Lagi enak enaknya dengerin, berhenti
seenak jidat gini…

Rio menaruh gitarnya di sandaran gitar sebelahnya, Rio berdiri dan melepaskan ikatan mawar di penyangga standing mic-nya lalu mengambil micnya, dan berjalan
santai menuju…

Rio menyodorkan mawar tersebut kepada Ify. Ify cengo. Gabriel menyadarkan Ify dengan menusuk pinggang Ify menggunakan pisau, ya kagak lah! Gabriel menusuk
pinggang Ify dengan jari telunjuknya. Ify tersadar, lalu menerima mawar
tersebut. Rio menjauhkan mic sejauh jauhnya
dari dada, karena takut detak jantungnya terdengar jelas.

Setelah itu Rio mengelurkan tangannya, Ify bingung. tapi diulurkan juga tangan Ify. Rio mengenggam tangan Ify, lalu…



“Ku ingin kau tahu… ku selalu milikmu, yang mencintaimu… sepanjang hidupku…”



_THE END_

Senin, Agustus 01, 2011

Mario Stevano < my idols >










































haii.. sekarang saya mau post tentang idola saya..
kali ini post tenatang si cakep Mario Stevano Aditya Haling, atau akrabnya di sapa Rio Idola Cilik 3 .
Rio seorang penyanyi cilik dengan bakat yang besar, suaranya yang merdu nan lembut, serta falsetnya yang membuat siapa saja yang mendengarnya merinding, menjadikanya lolos dalam audisi Idola Cilik hingga masuk ke 14 besar.
Rio sendiri dalam Idola cilik 3 menduduki peringkat Runner up, di bawah Lintar bocah Asal Padang.
Rio, yang lahir di Tomohon 24 oktober 1997 ini, merupakan anak ke 2 dari dua bersaudara, kakaknya bernama Acel yang setia mengiringinya dengan gitar saat berlatih di rumah. Ayahnya bernama Zeth Haling, sedangkan Ibunya bernama Amanda Kasengke . Rio berasal dari Manado.☺
Rio yang mahir bermain gitar ini, selain pernah menduduki peringkat runner up di Idola Cilik 3 RCTI , juga pernah menjadi juara 1 Idola Cilik Minahasa.
Chitato Sapi panggang dan kue sus, itulah makanan kesukaan Rio.

Rio Profile ☺

Nama : Mario Stevano Aditya Haling
NP : Rio
TTL : Tomohon, 24 Oktober 1997
Agama : Kristen Protestan
Ibu : Amanda Kasengke
Ayah : Zeth Haling
Sklh : SMPN 5 Airmadidi
Kelas :8
Prestasi : Juara 1 Idola Cilik Minahasa
Bakat: Mahir bermain gitar

sekian dulu ya, post tentang Rio !! ☺