SENYUMU MENGALIHKAN DUNIAKU
Aku melihatnya, hanya melihatnya. Aku memandang dirinya, hanya dirinya. Aku tak tau betapa lama aku terperangkap dalam pesonanya. Aku menyukai sosoknya yang ceria dan penuh senyum sepanjang waktu, sehingga membuat diriku yang pemalu ini semakin percaya diri. Senyuman tulusnya memberikan kehangatan bagiku. Dialah Ahmad Fauzi Adriansyah.
Ahmad Fauzi Adriansyah, atau yg sering dipanggil ozy adalah teman sekelasku di kelas 8c, SMP Ochalova (ngarang, tpi gpp kan?). Setiap pagi, senyuman indahnya selalu tampak didalam kelas. Seperti pagi ini.
"Pagi semua.." ucap Ozy bersemangat dengan senyuman manis terukir dibibirnya.
"Ih.. Berisik banget sih Zy.." sahut Agni dengan tampang menyebalkan bagi Ozy. Tapi ozy tau Agni hanya bercanda.
“Ckck.. Dasar sirik. Hehe. Pagi Achaaa.." ujarnya semangat kepadaku. Senyuman manis masih terpampang jelas diwajahnya.
Aku blushing, "Pa...pagi zy.." jawabku gagap.
Dia tersenyum, "Acha.. Kamu masih belum berubah ya"
Perkataannya membuat pipiku semakin memerah, 'Dia tau segala perkembangan sifatku. Ah, ternyata dia juga memperhatikanku'. Aku melihatnya dia menuju bangkunya.
Teet.. Teet..
"Jadi.. Untuk mencari area dari bla bla bla" Pak duta kembali menerangkan pelajaran matematika yang membosankan. Padahal materi itu sudah diterangkan minggu lalu. Karena bosan, aku hanya ingin melihatnya.
DEG!
Degup jantungku semakin kuat berdetak. Tak disangka, saat itu juga Ozy sedang menatap wajahku. Dan lagi2, wajahku memerah. Aku segera memalingkan wajahku kearah lain, aku malu. Malu karna wajahku sudah semerah tomat yang sering kumakan.
Teet.. Teet
bunyi bel tanda istirahat berbunyi. Sebagian memilih keluar, dan beberapa lagi memilih membaca buku ataupun tidur di dalam kelas. Aku bersama sahabat2ku, Nova, Agni dan Ify lebih memilih untuk pergi ke kantin. Mereka semua tau kalo aku menyukai Ozy. 1 kelas pun tahu, Bukan! Bukan 1 kelas! Bahkan 1 sekolahan itu tau kalo aku menyukai Ozy, kecuali ozy itu sendiri.
"cha, aku bener2 bingung deh. Kok bisa2nya ya kamu suka ama cowok hiperaktif kaya' Ozy itu?" tanya Nova serius setelah Nova menenggak jusnya.
Pertanyaan Nova membuatku blushing.
"Ah.. I..itu.. Aku gak tau. Mencintai seseorang gak harus ada alasannya kan?" jawabku seadanya.
“Sepertinya kamu benar2 cinta ama Ozy ya?" tanya Nova lagi.
Blushing. Pipiku kembali memerah. Aku tidak menjawab pertanyaan Nova. Tak perlu. Karna, sekalipun aku gak menjawab, mereka pasti sudah tau jawabannya.
"Lho Nova.. Kamu ndiri gimana? Gimana kelanjutan hubunganmu dengan Lintar?" kali ini Agni bertanya pada Nova.
Dan sekarang, giliran Nova pipinya memerah.
"Ah, soal itu.. Hmm.. Kemaren Lintar menembakku dan sekarang kami jadian" jawab Nova malu2.
"Apa!? Wah, knapa gak bilang2? Waduh asyik! Nova bakal traktir kita2 nih!" timpal Ify kegirangan.
"Eh..eh.. Tapi..."
Belum selesai Nova ngomong, Agni menimpal, "Asyek asyek.. Uang jajan hemat.. Thanks y Nov".
Nova pun hanya mengangguk2 pasrah, pasrah isi dompetnya akan terkuras habis hari ini.
Teet.. Teet..
Bunyi bel tanda pulang menggema. Aku segera menuju ke bangku taman sekolah untuk menunggu kakakku, Rio.
Brum.. Brum..
Bunyi motor Kak Rio terdengar jelas olehku. Aku bangkit berdiri. Tapi, aku lihat Kak Rio membonceng seseorang. Lebih tepatnya cewek. Dan cewek itu sepertinya sangat kukenal, "Ify!".
"Hmm.. Maaf ya cha. Kakak gak bisa ngantar kamu pulang. Karna kakak pengen ngantar Ify pulang, karna sebelumnya kami ada urusan. Jadi Acha gak pa2 kan pulang sendiri?" tanya kak Rio, meminta pendapatku.
"Hmm.. Gak pa2 kak. Aku kan bukan anak kecil lagi. Aku bisa kok pulang sendiri" jawabku ikhlas.
"Kalo begitu, bagaimana klo aku aja yg ngantar Acha pulang?" sebuah suara mengagetkan kami ber-3. Kami ber-3 pun menoleh kearah sumber suara.
"Ah.. O..zy" jawabku gugup.
"Lho. Kok gak ada yg jawab pertanyaanku? Bagaimana kalau aku aja yg ngantar Acha pulang?" Ozy kembali bertanya sekali lagi.
"A..aku gak mau merepotkanmu, Zy.." jawabku ragu2.
"Ah.. Gak.. Gak merepotkan sama sekali. Bahkan aku merasa senang bisa mengantarmu.." timpalnya dengan mantap. Senyuman kembali tersungging diwajahnya.
'Apa? Apa katanya? Dia malah senang mengantarku? Oh Tuhan. Apa ini mimpi? Tolong jangan bangunkan aku. Bukan! Ini bukan mimpi! Ini kenyataan!' batinku senang.
Aku melihat kearah Kak Rio, seakan bicara, 'Kak, bagaimana ini?'. Kak Rio mengangguk, Ify pun ikut mengangguk setuju.
"Ok cha. Kami pergi dulu. Eh Zy, jagain adek gue! Awas lho, jangan macem2!" pesan Kak Rio tegas. Dan kak Rio dan Ify pun berlalu.
“Cha, ayo cepet naek ke motorku.." ujarnya sambil mengajakku naik dg senyuman manisnya.
"I.. Iya.." jawabku dg wajah semerah tomat.
'Oh Tuhan! Terimakasih atas segala yg Kau beri kepadaku hari ini', batinku senang.
"Oke.. Siapa aja yg stuju?" tanya Debo, ketua kelas 8c didepan kelas.
Semua angkat, termasuk aku. Memang, kelas kami akan mengadakan perpisahan dg anak kelas 9. Dan kami telah merencanakan pesta kecil2an disebuah kafe dekat sekolah.
"Oke. Sepertinya semuanya setuju. Baiklah, utk biayanya kita memakai uang kas. Dan bagi yg blum bayar, silahkan bayar sekarang juga."
kalo boleh info, sekolah ini ada sekolah yg lumayan elit. Jadi, klo untuk byar kas kami slalu tepat waktu.
"ok. Nanti pulang sekolah bagi pengurus kelas harap rapat dulu." lanjut Debo lagi. Jadi, hari ini sudah pasti aku akan pulang terlambat, aku pun langsung mengirim sms pada Papa dan Kak Rio.
To skip --->
"Baiklah. Sepertinya rapat hari ini sudah selesai. Kalian sudah mengerti?" tanya debo menutup rapat hari ini.
"Mengerti!" jawab mereka serentak.
Tiba2 sakuku bergetar. Aku segera mengambil hpku. Aku melihat 1 pesan masuk.
From : Kak Rio 'bawel'
Cha, sepertinya hari ini kakak gak bisa menjemputmu. Dan Papa katanya juga lagi sibuk. Jadi bagaimana kalau kamu diantar Ozy aja? Ok?
Salam untuknya ya ^^
'Aduh.. Bagaimana ini? Gimana caranya aku bilang ama Ozy?' batinku panik.
Tiba2.. "Hai cha. Kok sendirian? Kamu gak dijemput?" tanya Ozy penuh perhatian.
"I..iya.." jawabku gugup dg wajah yg telah memerah.
"kalo begitu mari aku antar" ajak Ozy lembut.
"Ah.. Baiklah.."
hari2 kulalui denganmu dg perasaan tenang dan gembira.
hari perpisahan telah tiba.
"Oke. Acara berikutnya adalah dansa" ucap Debo selaku MC pesta itu.
Hah, aku paling benci dansa. Karna palingan tidak ada yg mau ngajak aku dansa. Aku melirik, Nova bersama Lintar, Agni dg cakka, dan Ify dg Kak Rio yg kupaksa tadi..
Kalau aku siapa? Ozy? Mana mungkin dia akan mengajaku.
"Cha. Kamu gak dansa?" tanya Ozy tiba2 datang.
"Enggak. Gak ada yg ngajak aku dansa" jawabku pendek.
"Kalau begitu bagaimana kalo kita aja yg dansa berdua?" ajaknya.
"Ha? Dansa denganku?" aku malah bertanya padanya.
"iya. Sebenarnya didansa ini gak ada yg mau kuajak." jawabnya sambil menggaruk2 kepala.
"Trus, kok kamu ngajak aku?" tanyaku innocent.
"Karna cuma kamu yg ingin aku ajak. Tadinya kupikir, kamu ini udah diajak org lain. Tapi, ternyata dugaanku salah. Hmm, tuan putri, maukah engkau berdansa denganku?" ajak Ozy seraya menjulurkan tangannya.
Acha ragu2 meraih tangan Ozy, tapi akhirnya Acha diseret halus ke lantai dansa.
Alunan musik dansa yg merdu menghiasi ruangan itu. Aku pun menikmatinya dengan Ozy. Saat berbalik, ozy membisikkan sesuatu kepada telingaku "Love You.."
aku tersentak. Aku berharap gak salah dengar, "A..apa zy?"
Ozy menghentikan gerakannya. Dia lalu jongkok dg salah 1 kaki tegak.
"Cha, would you be my girlfriend?" ucap sungguh2 sambil menjulurkan tangannya padaku.
Aku benar2 salting saat itu. Wajahku entah semerah apa saat itu.
Semua org yg berdansa saat itu berhenti. Melihat bagaimana jalan penembakan ozy padaku.
“Cha. I love u. Would u be my girlfriend?" ulangnya lagi dg suara lebih keras. Aku mencoba mencubit pipiku sendiri. Sakit! Berarti benar aku gk mimpi.
"Hm.. I.. I love u too."
senyuman indahmu mengalihkan semua pikiranku. Menambah sejuknya hatiku. Ozy, senyummu mengalihkan duniaku.
end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar