Halaman

Rabu, Agustus 03, 2011

R.I.O = Rising-star Is On-the-way (copas)

R.I.O = Rising-star Is On-the-way



Seorang gadis mondar mandir ga jelas sambil berkali kali menggigit bibirnya dan melipat tangannya di dada, beberapa meter di depan sebuah pintu ruang audisi, wajahnya terlihat sangat
cemas.

Capek mondar mandir, gadis itu, Ify menyandarkan tubuhnya di tembok, masih menunggu, beberapa menit kemudian pintu audisi terbuka, Ify mundur sedikit, satu manusia bukan, bukan dia…, dua manusia
ah bukan juga… tiga… empat… lima
kenapa orang orang ini mukanya pada asem… enam… tu… Nah itu dia!

“Rioooo… gimana yo, gimana???” Tanya Ify yang langsung menarik tangan Rio, (ga enak juga di depan pintu) dengan semangat empat lima.
Rio tersenyum, lalu mengeluarkan sesuatu dari
balik jaketnya sambil nyengir lebaaarrr.

“Gua masuk 42 besar Fy!” Kata Rio sumringah sambil menunjukkan sebuah bintang berwarna silver mengkilap yang terbuat dari semacan karton yang mengkilap (mungkin) dan di tengahnya ada
tulisan yang seperti hologram; Welcome to My Idol 3.

“Waaaaa… Riooo!!! Selamet ya Yoooo…” Ify histeris dan langsung meluk Rio saking senengnya *Fy… gentian ama penulis donggg…*

“Iya… akhirnya, mimpi gue kejadian juga Fy…”

“Tapi ini masih permulaan, Rio, jalan masih panjaaanggg…”

“Iya! Karena gue lagi baek, gue traktir lo deh, Yuk!”

#####



Ify mencengkram lengan Iel kuat kuat demi melenyapkan kegugupannya.

“Tenang Fy…” Gabriel berusaha untuk menenangkan adik kembarnya.

“Kalian siap?” Rio meyakinkan. Ify dan Iel mengangguk mantap. Ketiga orang itu langsung masuk ke dalam rumah Rio.



“Ma… Pa…” Panggil Rio, kedua orang tuanya saat itu sedang berbincang bincang di ruang tengah “Eh, Rifyel…” Kata mama Rio. Rio
tersenyum kecil setiap mamanya memanggil mereka dengan sebutan seperti itu.

“Ada apa, Yo?” Tanya ayah Rio.

“kami mau ngomong, pa…”



Mario Stevano Aditya, memang sejak kecil dia bermimpi untuk menjadi seorang pemusik. Tapi kedua orangtuanya sangat tidak menginginkan Rio untuk terjun di dunia entertain, Ortu Rio lebih menginginkan
Rio untuk menjadi seorang dokter, bukan pemusik, karena menurut mereka masa
depan Rio tak akan terjamin bila dia menjadi seorang pemusik, apalagi hal hal
negative dunia entertain seperti yang selama ini mama Rio lihat di infotaiment.
Jangan sampai itu semua menerpa Rio, anak
tunggalnya.

Untungnya Ify dan Gabriel, sahabat Rio selalu mendukungnya dan memberikan Rio semangat. Karena mereka tahu, Rio memiliki bakat yang sangat besar dibidang
musik, mungkin bukan hanya musik, menurut Ify, Rio
memiliki wajah yang diatas rata rata. Siapa tahu Rio
bisa jadi coverboy atau semacamnya?? Ify pulalah yang menyarankan Rio untuk
ikut audisi My Idol 3 ini, tapi, setelah Rio mendapatkan Silver Card, Ify dan
Rio malah bingung, bagaimana cara membuat orang tua Rio
mengizinkannya mengikuti My Idol?

Dan Akhirnya, malam ini, Ify, Iel, Rio memutuskan untuk berbicara kepada ortu. Mereka sdikit ragu, tapi, Rio harus berhasil.



mereka berdebat panjang. Ayah Rio sempat meledak ketika Gabriel mengatakan bahwa Rio mengikuti audisi itu. Tapi akhirnya, Orang tua Rio
luluh juga. Demi putra tunggalnya. Dengan syarat: Rio harus menang, atau jangan
harap Rio diperbolehkan bermusik lagi, dan juga sekolah Rio tidak boleh sampai
terbengkalai, karena Rio masih duduk di bangku
kelas XI. Rio lega, dia berjanji dalam hati
untuk memenangkan ajang pencarian penyanyi berbakat itu.

#####



Rio berhasil melewati babak pra finalis dengan mudah, dengan modal suara lembut, kemampuan bermain musik, dan wajah yang, ehm. Ganteng, itu ga akan terlalu
sulit. Sejak Rio menjadi finalis My Idol, Rio
pun harus bolak balik Jakarta-Bogor. Sekolah Rio pun agak terganggu juga, dalam
seminggu Rio hanya dapat masuk sekolah 2-3
hari. Untung Ify selalu membantu Rio mengejar
setiap ketinggalannya.

4 Bulan berlalu, dengan usaha mati matian Rio akhirnya Rio memenangkan ajang pencarian bakat tersebut! Dan tentunya, kedua sahabatnya ikut ambil andil dalam
kemenangannya. Ify dan Iel-lah yang sibuk berkampanye sejak awal awal Rio muncul di 42 besar. Dan, orang tua Rio
juga bangga kepada anak semata wayangnya itu. Ternyata selama ini mereka salah
mengira bahwa Rio hanya iseng iseng suka
bermusik. Tapi ternyata Rio serius.

Dalam sekejap, popularitas Rio menanjak setelah memenangkan My Idol. Jam terbang Rio semakin padat. Akhirnya malah Rio tidak hanya menjadi seorang pemusik, melainkan juga seorang bintang iklan, dan coverboy :) sebenernya Rio ingin menolak, tapi tawaran
yang datang begitu banyak. Akhirnya Ify menyarankan untuk tidak menyia nyiakan
kesempatan tersebut. Dan oleh karena banyaknya aktivitasnya itu, Rio memilih
untuk pindah ke Jakarta
demi kelancaran karirnya. Begitupun sekolahnya.

#####



Hujan. Begitulah cuaca Bogor siang sini. Baguslah, daripada panas?

Ify memencet mencet remot TV tapi ga ada satu pun yang menarik perhatiannya. Sampai akhirnya jempol Ify berhenti memencet di sebuah stasiun…



“Guys, tau Mario Stevano kan??” kata seorang presenter cowo acara… musik sih sebenernya, yang bawain juga sepasang remaja yang tengil abis. tapi tetep ada segmen gosipnya gitu.

“tau lah… pacar gue itu sih…” Kata presenter cewe centil.



Dimana idola, disitu ada fans. Ya… otomatis dengan ketenaran Rio sekarang, fans Rio pun ada dimana mana, terutama gadis remaja, nama fans Rio disebt RISE.
Awalnya, Ify seneng banget mengetahui sahabatnya sukses, tapi lama kelamaan,
Ify merasa tersingkir dengan kehadiran fan fans penggila Rio.
Padahal itu hanya perasaannya saja. Rio tak
pernah melupakan kedua sahabatnya. Mungkin memang Ify yang terlalu sensitive.
Oke, Ify kembali memerhatikan acara tersebut.



“idih… ngaku ngaku ya lo… Nih, kemaren, tim Star Music and News berhasil mewawancarai Rio di sebuah restaurant, dan saat itu, Winner of My Idol season 3 ini sedang bersama dengan…
Ehm, tahan nafas ya RISE, seorang cewe yang diaku Rio
sebagai pacarnya!”

JEDERR. Suara petir itu, kan lagi ujan. Ify merasakan sesuatu yang menohok jantungnya.



“Huwaaa… siapa yang ngambil Mario gue??” kata presenter ceweknya.

“Lebe deh, Lo, Nov… dan ceweknya Mario ini, tau siapa? Seorang model baru bernama Ashilla.”

“Huhuhu… gue mau nyebur sumur deh abis ini.” Kata presenter cewe itu sambil menangis Bombay.

“Oke guys, yuk capcus kita lihat aja liputannya, biarin deh si Nova nyebur sumur, kan honornya lumayan buat gue…”

“enak aja! Ga jadi nyebur sumur gue. Oke Guys. Liputan Rio dan pacar barunya menutup Star Music siang ini, dan Habis liputan Mario ini, kami akan memutar satu Video Clip dari… Vierra with Perih.”

“Patton Otlivio dan Nova Sinaga undur diri, sorry kalo ada salah kata, kami berdua bakalan balik lagi besok di jam yang sama, so…”

“See you…” Patton dan Nova kompak.



Setelah itu, Ify memerhatikan liputannya. Dan memang benar. Pacar baru Rio, Cantik. Rio duduk di sebuah kursi, dan Ashilla di sampingnya sambil menggmit
lengan Rio manja dan tersenyum malu malu
najong. Satu kalimat Rio, menghancurkan hati
Ify.

“Iya… kami memang baru jadian…”



Ify langsung mematkain tivinya. Ga tahu kenapa, air matanya menetes. Di belakang, tanpa diketahui Ify, Gabriel sudah berdiri di sana
sejak tahun lalu. Gabriel pun langsung menepuk pundak Ify pelan. “Gue tahu
perasaan Lo, Fy…”



F-Y-I. Ify menyukai Rio sejak SD. Makanya dia seneng seneng aja sewaktu ngebantuin Rio. Tapi dia tulus kok, ngebantuinnya. Ify juga seneng mengetahui Rio
berhasil meraih yang diinginkannya selama ini. Tapi yang barusan itu… Pacar
Rio? Ashilla Zahrantiara. Cantik banget, tipe tipe yang Angelic Face gitu. Tapi
kok berasa aneh ya sama Shilla,

#####

1,5 Bulan kemudian…



Rio memarkir mobilnya di depan rumah Shilla. Setelah melihat bayangan nya di cermin dalam mobil dan memastikan dirinya benar benar rapi, Rio
keluar dari mobilnya. Hari ini, Rio mendapat
jatah libur sehari dari managernya. Ya, hanya sehari. Tapi ini sudah merupakan
anugrah untuk Rio disela sela kesibukannya.

Rio melangkah menuju pintu rumah Shilla. Jari telunjuknya sudah nyaris menekan bel rumah, tapi Rio mengurungkan niatnya karena
mendengar sesuatu di dalam rumah Shilla. Rio
menajamkan pendengarannya. Sepertinya ada tamu, teman Shilla mungkin.

“Pliss dong, kamu percaya sama aku…” sayup sayup terdengar suara Shilla.

“Iya, Shill, tapi sampai kapan??” suara siapa tuh? Suara cowok. Rio berusaha mengintip dari jendela, tapi tak terlihat, mungkin suaranya dari ruang tengah. Rio memmutar handle pintu dan ternyata tidak dikunci. Rio melangkah pelan tanpa menimbulkan suara, masuk ke
rumah Shilla. Rio heran, ngapain juga musti
kayak maling di rumah pacar sendiri? Eh… STOP! Rio
tercengang melihat siapa yang ada di ruang tengah. Rio
mundur satu langkah, lalu sedikit bersembunyi di balik tembok.

“Kamu tau rencana aku dari awal kan?” Kata Shilla lembut kepada cowo yang duduk di sebelahnya, Shilla sedikit memutar posisi duduknya agar bisa menghadap cowok itu.

“Bukannya kamu sudah dapet yang kamu mau? Terus, ngapain kamu masih sama Rio itu?”

“Belum, Oke karir aku memang sedang menanjak, tapi aku masih butuh Rio…”

“Tapi kamu beneran cuma manfaatin Rio kan?”

“Ya ampun sayaanggg…” Shilla menggenggam erat satu tangan cowo itu. “Aku kan udah bilang berkali-kali. Aku ga ada rasa apapun sama Mario! Ga ada Vinn… aku pacaran sama dia, hanya untuk ngedongkrak
popularitas aku, dia kan
lagi sukses suksesnya. Dan, kamu liat sendiri kan hasilnya??” Rio
ternganga. Tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.

“Oke aku percaya, tapi, kamu harus segera menyelesaikan semuanya, bisa mati kepanasan aku Shill, liat gossip gossip kamu sama Rio setiap hari di
infotaiment.” Kata cowok itu sambil mengacak acak rambut Shilla mesra.

Sementara Rio? Mukanya cengo, ga salah liat dan denger kan?? Batinnya. Sialan! Ternyata selama ini Rio
tertipu dengan kecantikan Shilla. Pantesan, selama ini Rio
merasakan sesuatu yang janggal dihatinya selama berpacaran dengan Shilla. Oke,
kali ini, Rio pantas untuk marah. Tapi
sayangnya, Rio bukan tipe cowo yang gampang
meledak.

Dengan langkah tenang, Rio memasukki ruang tengah. Suara langkah kaki Rio membuat Shilla dan cowo yang duduk di sebelahnya menoleh. Dan masing masing langsung melepaskan genggaman tangannya. Keduanya sama sama kaget.

“Hay, Shill…” Kata Rio santai sambil melirik cowo yang sedang gugup di sebelah Shilla, sepertinya Rio pernah liat, siapa ya?

“Rrr…Rio? Sejakkapankamudisitu?”

“Ga usah gugup gitu kali, Shill… ada paan sih?” Rio sok ngak tau apa apa.

“Kamu sejak kapan ada di situ?…”

“Sejak…” Rio mengingat ingat sambil lirik lirik ke penulis minta diliatin naskah yang tadi. Karena penulisnya lagi baik hati, aku liatin deh… “Sejak kamu bilang, Kamu tahu
rencana aku dari awal kan?”

Shilla diem, Alvin diem, Rio? Tersenyum sinis.

“Kok, pada diem seeh? Ga asik ah kalian, ya udah, gue cabut deh. Bye …” Rio berbalik lalu melambaikan tangannya sambil tersenyum puas kerena telah berhasil
membuat kedua orang tadi kicep. Eh eh tapi, tapi kok ada yang aneh. Batin Rio. OH! Kok Shilla ga ngejar ya? Biasanya kalo di novel
novel Shilla nya ngejar ngejar gitu. Ah Boam.

Rio langsung masuk ke dalam mobilnya, pake banting pintu lagi! Biar keliatannya sangar geto… Rio memukul keras pinggiran setir
mobilnya. Kesel juga dia. Tauk ah! Rio lalu
menstater mobilnya. Dan meninggalkan rumah Shilla perlahan dengan perasaan…
Kecewa (?) Rio sempat melirik ke kaca spion
mobil. Nah loh? Ngapain Shilla baru ngejar sekarang? Telat amat!

Rio merutuk dalam hatinya. Kok bisa bisanya dia ketipu ama cewe yang model kayak Shilla gitu… apa dipelet ya? Kok Rio bisa nyampe jadian sama Shilla. Tapi dulu
waktu awal awal kenal, Shilla itu ramah, baik, perhatian pula. Taunya itu
sekedar topeng belaka. Di tengah kekesalannya, tanpa sadar, Rio
mengarahkan mobilnya ke arah… Bogor??

#####



Wewegkk… Wewegkk…



Rio tersenyum mendengarkan suara kodok yang cempreng itu, yang tak lain tak bukan adalah suara bel rumah Ify.

Rio menatap bayangannya sekilas di kaca jendela rumah Ify. Rio lalu mendesah pelan. Jaket item, Topi putih, kaca mata hitam, penutup jaketnya
dipake pula. Mau maen ke rumah sahabat yang udah sekian bulan ga ketemu aja
musti kayak gini…

CEKLEK, suara handle pintu yang diputar membuyarkan lamunan Rio. Gabriel nongol, dan mlongo sejenak, kok ada ninja nyasar gini…

“Maaf, siapa ya?” Tanya Iel sedikit ragu sambil (sok-sokan) memerhatikan muka orang yang berdiri di depannya, sebagian wajahnya ketutupan kacamata yang segede piring yang biasanya kalian
semua pake buat makan (Oke, aku ngaku kalo bagian ini lebay).

Rio bengong. IEL GA NGENALIN GUE! Rio masih cengo untuk beberapa saat.

“Yaelah sob! Biasa aja kaleee… jelek tau muka lo kalo gitu!!” Iel terkekeh. Sial. Rio lupa kalo kakak kembar Ify ini pinter acting dadakan. Iel langsung merangkul Rio dan masuk ke dalam rumah. “Sibuk banget Lo ya!! Sampe
ga inget kita kita!!” Iel menonyor kepala Rio.
Rio hanya nyengir.

“Makanya gue ke sini El,, mumpung libur!”



“Iel… itu tadi ada yang mencet bel sia…” Ify ternganga dan cengo sejenak melihat siapa yang sedang dirangkul Iel.

“Hay Iffyyyy…” Rio melepaskan rangkulan Iel, lalu membuka kedua tangannya lebar lebar.

“RIOO!!” Ify lalu memeluk Rio erat kayak sahabat yang udah lama ga ketemu (nah, emang kan???).

#####



“Oh… gitu, Yo… tapi kok, lo baru putus sama cewe biasa aja ya mukanya??”

“Maksudnya?”

“Kan biasa yang namanya baru putus itu mukanaya lecek ato gimana… gitu. Nah, Rio teh mukanya biasa?”

“Iya juga ya… kok gue baru nyadar Fy, harusnya gue sedih ya? Emang sih, harusnya gue sedih, tapi… tauk ah! Barangkali gue emang sebenernya ga beneran cinta sama model alay itu.”

“La terus? Ngapain lo pacarin Shilla?”

“Nah itu dia! Gue juga bingung. Di pelet kali yagk gue?



Rio menceritakan semuanya kepada Ify. Di sini, di tempat biasanya Rio, Ify dan Iel main. Sebuah danau kecil yang ga begitu jauh dari rumah Ify. Hari
sudah lumayan gelap, jam setengah delapan malam. Tadi, Rio sempat numpang makan
malam di rumah Ify, dan mampir dulu bentar di rumah orangtuanya, secara Rio kan di Jakarta
ngontrak, tinggal sama managernya doang.

Rio berbaring dengan tangannya ditaruh di belakang kepala sebagai bantal, matanya sibuk mengamati bintang bintang yang bertaburan bak ketombe di rambut orang
yang sebulan ga keramas *ah! Ga banget deh perbandingannya!* sedangkan Ify
duduk di sebelahnya. Seharusnya Iel juga ada di sini, tapi belakangan ini Iel
punya pekerjaan sebagai seorang penyiar radio. Dan malam ini, jadwal Iel untuk
siaran.



“Ngawur lu Yo… jaman gini masih ada ya pelet-peletan??”

“Ntuh, Shilla buktinya.”

“Ngapain juga dia pake pelet peletan gitu ya? Shilla kan cantik…”

“Luar doang. Dalemnya enggak.” Kata Rio. Hening sejenak…



“Eh, Fy… gue ga berubah kan??” Rio bangkit, mengganti posisinya menjadi duduk.

“Maksud lo?”

“Ya… gue kan sekarang jarang banget ngmpul sama Lo, sama Iel juga…”

“Ngomong apaan sih, Yo?? Kita semua seneng lagi, kalo lo bisa sukses, kan ini yang lo pengen… tapi sekolah lo gimana, Yo??”

“Ya ga gimana gimana, gue emang nyuruh manager gue untuk nerima job diluar jam sekolah aja… ya, paling ngga gue masuk sekolah sekitar 4 hari seminggu. kan
ga ada yang Bantu gue nulis catatan Ify…”

“Jiah… lo tu ye…” Ify menonyor kepala Rio.

“Thanks ya, Fy… selama ini lo yang Bantu gue. Gue jadi bisa kaya sekarang ini…”

Ify tersenyum. Jantung Rio ga tahu kenapa berdetak lebih cepat melihat senyum Ify barusan.

#####



Beberapa bulan kemudian… @Artist room



“Udah yo… uda ganteng kok…” kata Ify sambil mengamati penampilan Rio yang emang keren, kemeja hitam lengkap dengan jas putih dan digulung se-siku, sepatu
putih, celana putih, dan dasi putih
juga. Ganteng. Batin Ify.

“Nerves nih…” kata Rio dengan raut muka gelisah.

“Kan Lo udah biasa tampil Yo…”

“Tapi ini kan konser tunggal gue yang pertama Fy, yang dataeng banyak lagi…”



“Rio, spuluh menit lagi…” Kata manager Rio, Rio hanya mengangguk semakin gerogi.

“Good Luck ya Yo… gue nonton lo di bangku paling depan…” Kata Ify sambil tersenyum manis. Ya elah, si Ify, udah tahu Rio lagi nerves malah disenyumin. Kacao
kacao.

“Eh iya Fy…” Rio menahan Ify sejenak sambil merogoh saku jas-nya. Ify menunda langkahnya menunggu apa yang akan diucapkan Rio.
“Kemaren- kemaren, pas hunting kostum, aku liat ini, kayaknya cocok Fy sama
lo…” Kata Rio sambil menunjukkan jepit rambut berbentuk bintang laut berwarna
putih. Tanpa menunggu komando dan tanpa berkata apa apa Rio
langsung melepas ikatan rambut Ify dan memasang jepit tersebut di salah satu
sisi rambut Ify. Ga tahu aja tuh si Rio kalo
Ify jantungnya udah lari marathon, pipi Ify pun memanas.



“Woy, Fy, ngapain lo masih di sini…” Gabriel masuk, memecah suasana yang lagi ehm, gimana ya…

“Ya udah, Yo… duluan ya? Thanks jepit rambutnya…” Kata Ify, menepuk bahu Rio lalu menggandeng lengan Iel, keluar dari ruangan tsb. Ify, Iel, dan keluarga
Rio memang mendapat akses bebas keluar masuk artist room ini, atas permintaan Rio tentunya.

Rio menghela nafas.

“Kayaknya gue udah yakin sekarang deh Fy…”

#####



Konser dimulai, yang nonton bejibun ternyata… Iyalah, orang tiket konsernya aja udah ludes sebelum genap 2 hari di jual. Ga heran kalo ruang konser yang lumayan luas ini penuh, nyaris ga ada
kursi kosong lagi.

Lagu demi lagu selesai dinyanyikan Rio dengan perfecto, berkali kali terdengar riuh tepuk tangan dan teriak teriakan memanggil nama Rio saking
terpesonanya memenuhi seantero ruangan konser. Padahal Rio saat itu baru kelas
3 SMA. Waktu dua jam konser seorang Mario Stevano ternyata terlalu singkat.
Sampai lagu terakhir…

Seluruh ruangan gelap untuk sekitar 10 detik. Bukan! Bukan listriknya mati. Tiba tiba lampu menyala, redup, dan lampu sorot mengarah ke Rio yang saat itu
sedang duduk tepat di tengah panggung, memangku gitar akustiknya, senjatanya
dulu sewaktu audisi My Idol. Di depannya sebuah standing mic yang di tiang
penyangganya ada setangkai mawar merah yang diikat dengan pita berwarna silver.

“Lagu terakhir, Rio persembahkan untuk seseorang yang selalu ada untuk Rio, dan udah bantuin Rio, sampai seperti sekarang ini…” teriakan histeris cewe cewe penggemar Rio
membahana. Pertanda iri dengan gadis yang dimaksud Rio.
Ify tersenyum, jantungnya berdetak cepat. dag dig dug DUARR. Suasana kembali
hening begitu Rio memainkan jarinya diantara
senar senar gitar. Solo gitar. Matanya menatap lurus ke arah… Ify?



“Menatap indahnya senyuman, di wajahmu, membuatku terdiam dan terpaku…” Tepuk tangan terdengar lagi, padahal baru satu kalimat yang Rio ucapkan. Lagu terus
berlanjut dan sukses membuat semua orang berdecak kagum. Ify pun tesenyum
menyadari tatapan mata Rio tertuju padanya.
Lagi suasana romantis kayak gitu, pundaknya dijawil orang yang duduk di
sebelahnya.

“Cie Ify…”Goda Iel yang langsung disambut dengan tonyoran dari Ify. Merusak suasana deh…



Lagu masih berlanjut sampai reff terakhir:



“Aku ingin engkau slalu… hadir dan temani aku… di setiap langkah… yang meyakiniku, kau tercipta untukku… meski waktu akan mampu, memanggil sluruh ragaku…” Rio
menghentikan lagunya. Semua mangkel. Lagi enak enaknya dengerin, berhenti
seenak jidat gini…

Rio menaruh gitarnya di sandaran gitar sebelahnya, Rio berdiri dan melepaskan ikatan mawar di penyangga standing mic-nya lalu mengambil micnya, dan berjalan
santai menuju…

Rio menyodorkan mawar tersebut kepada Ify. Ify cengo. Gabriel menyadarkan Ify dengan menusuk pinggang Ify menggunakan pisau, ya kagak lah! Gabriel menusuk
pinggang Ify dengan jari telunjuknya. Ify tersadar, lalu menerima mawar
tersebut. Rio menjauhkan mic sejauh jauhnya
dari dada, karena takut detak jantungnya terdengar jelas.

Setelah itu Rio mengelurkan tangannya, Ify bingung. tapi diulurkan juga tangan Ify. Rio mengenggam tangan Ify, lalu…



“Ku ingin kau tahu… ku selalu milikmu, yang mencintaimu… sepanjang hidupku…”



_THE END_

Tidak ada komentar: