Halaman

Rabu, Juli 02, 2014

the Hardest Raid - Part 1 [RiFy]



Ini cerita baru dari saya. Semoga banyak yang suka. Terutama RFM dan ICL semua. Cheers!



Title: the Hardest Raid
Genre: Romantic, Action.

BAM! Bruk..
DOORR!!
DOOOR!!
“Cepat! Buang mayatnya si brengsek ini ke danau!”
Deg  deg deg, detak jantung Alyssa berdegup begitu cepat. Ia segera bersembunyi di balik semak. Tiga pria berbadan kekar dengan jas hitam sedang membuang mayat seseorang ke danau di depan sana. Jika mereka tahu keberadaan Alyssa, pastilah ia akan ikut dibunuh juga. Karena ia telah menjadi saksi aksi pembunuhan tersebut. Sebaiknya ia diam disana sampai ketiga pria yang 10 meter di depannya itu pergi. Tapi tunggu! Sepertinya Alyssa kenal mayat itu.
Alyssa memicing mencoba menyesuaikan pandangannya di kegelapan pagi ini. Sepertinya ia kenal, sungguh tidak asing lagi. Seperti om Riko. Ada tanda hitam besar di kening kiri mayat itu.
“Itu kan om Riko. Benar om Riko. Ya Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi?”, Alyssa merosot di balik semak. Om Riko adalah sahabat sekaligus rekan kerja sang papa yang sudah sangat dekat dengannya. Bahkan keluarga mereka sudah dekat seperti saudara. Dan pemandangan di depannya sekarang ini benar-benar menyedihkan.

“Cepat! Kita tidak boleh ketahuan. Ingat jangan meninggalkan jejak sedikitpun!”, Kata sang boss yang kemudian berjalan meninggalkan dua anak buahnya. Mereka terlihat professional dalam hal ini.
“Gue seneng banget pekerjaan ini, memacu adrenalin banget! Apalagi orang-orang di list yang harus kita bunuh adalah orang-orang besar.” Satu dari sang anak buah itu memulai.
“Iya, ternyata bodyguard yang mereka sewa mahal itu masih kalah dengan kita. Seharusnya kita dapat bayar lebih dari boss. Iya kan?”, seorang lainnya menimpali.
“Ya, tentu saja. Aku tidak sabar menyelesaikan tugas ini, ini keren bro!”
“Betul! Apalagi besok kita harus menyelesaikan riwayat hidup seorang Kiki Umari. Lo tahu kan siapa dia? Ini bakal keren”, Alyssa tercekat. Kiki Umari? Itu kan ayahnya. Jadi, orang-orang itu juga akan membunuh ayahnya? Alyssa ingin pergi kesana dan menghabisi dua orang itu, tapi ia urungkan niatnya. Danau ini masih sepi sekali. Ini pukul 2 pagi, dan ia tidak mungkin bisa melawan dua orang yang bisa menghabisi om Riko sendirian.
“Bener banget!”
“Ayo cepat kita pergi, sebelum ada yang mengetahui keberadaan  kita!”
Kedua orang itu segera mengambil langkah pergi. Alyssa benar-benar tidak mampu bernafas saat ini, apalagi berdiri.
“Siapa orang itu? Kenapa ia tega membunuh om Riko dan akan membunuh papa?”, Alyssa menangis dalam diam.
Setelah kepergian orang-orang tadi  Alyssa segera pergi meninggalkan tempat itu.

                                                                ***
Drrrtt… Drrrtt…
“Errggh..”, Rio menggeliat dari tidurnya. 2:30 am. Siapa yang menelfon sepagi ini?
Alyssa? Rio mengangkatnya dengan malas.
“Hallo? Ngapain lo? Ini masih setengah 3 pagi. Tidur sana! Kangen lo sama gue sampai telfon sepagi ini?”, Rio mendecak kesal pada Alyssa.
Bukannya menjawab Alyssa malah sesenggukan di seberang sana. Rio heran sendiri dengan gadis ini. “ Lo kenapa Al?”
“Pergi ke kamar ayah sekarang!”
“Hah? Ngapain? Gue ngantuk Al. Kenapa nggak telfon langsung ke ayah sih?”
“SEKARANG!”
“Lo gila ya? Bisa budek nih telinga gue. Iya iya, bawel”, Rio berjalan ke kamar sebelah dengan sedikit mendumel.
Ayahnya tidak ada di kamar.
“Ayah nggak ada Al, mungkin lembur di kantor. Kenap……”
“Temuin gue di Taman Edelweis sekarang. Di bangku sebelah utara dekat sungai”
Tuutt… tuuut.. tuuuttt… sambungan diputus begitu saja oleh Alyssa.
“Eh? Apa? Halo Al? Al??”, Rio menatap handphone nya penuh kebingungan.
“Cewek gila! Ini jam 2 pagi dan dia ada di luar? Bener-bener gila”
Rio segera bangkit dari kasur, mengambil jaket dan kunci motor. Mencari keberadaan gadis yang ia anggap gila itu. Takut jika terjadi sesuatu dengannya.

                                                                ***
Rio memarkir motornya di dekat bangku yang dimaksud Alyssa. Gadis itu berdiri di dekat sungai, memeluk tubuhnya sendiri. Malam ini memang begitu dingin. Jelas saja ia kedinginan, Alyssa hanya memakai kaos lengan pendek dan celana skate favoritnya.
“Lo gila hah?! Bangunin gue jam segini Cuma buat jemput lo disini?”, Alyssa bergeming.
“Ini masih pagi buta Al, lo nggak liat? Ngapain sih lo sepagi ini kesini? Lo itu cewek. Kalau lo kenapa-kenapa gimana? Hah?! Pikir dong”
                Gadis itu tetap bergeming. Rio mencoba mendekatinya, Alyssa sedang melamun tetapi menitikan air mata. Rio semakin bingung.
                “Al, lo kenapa?”, Alyssa menoleh sebentar pada Rio.  Pandangannya kembali lurus ke depan.
                “Al, lo jangan bikin gue tambah takut deh. Ada apa?”, Rio melembut.
“Ayah lo dibunuh yo, dan target selanjutnya adalah papa gue”
1 detik….
                2 detik….
3 detik….
4 detik….
5 detik….
“Lo nggak lagi bercanda kan Al?”
“Apa gue kelihatan lagi bercanda?”
“Tap.. tapi …”
“Lo sudah lihat sendiri ayah nggak ada di kamar kan?”
“Bisa saja kan ayah sedang lem…”
“Kalau lo nggak percaya sama gue nggak apa-apa. Tapi gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, ayah lo ditembak mati dan dibuang ke danau oleh 3 orang pria.”
“Nggak mungkin Al…”
“Gue akan buktikan ke elo. Ayo ikut gue!”
Alyssa menarik Rio ke motornya, dan membonceng Rio yang masih bingung menuju danau.
Ketika sampai di danau, sudah banyak polisi yang menggerombol dan mengangkat mayat seorang pria dengan blazer hitam dari dasar danau. Lalu memasukannya ke kantong jenazah. Suara sirine ambulans dan mobil polisi bergema. Alyssa dan Rio berdiri sedikit jauh mengamati para polisi itu bekerja. Rio menatap tajam pada mayat itu, jelas sudah itu benar-benar ayahnya, Riko.
“Dan target selanjutnya papa gue.”, Alyssa menoleh kepada Rio.
“Gue turut berduka cita yo, Om Riko itu juga sudah seperti ayah gue sendiri. Gue sangat menyesal karena nggak bisa nolongin beliau, padahal gue ada di sana. Maaf yo, tapi gue juga takut kalau gue dibunuh oleh orang-orang itu. Maaf, kalau gue sudah bangunin lo sepagi ini. Maaf, gue harus pergi. Gue nggak mau papa gue jadi korban berikutnya. Gue harus sebisa mungkin mencegahnya.”
“Lo serius Al?” Rio mulai menangis. Ayahnya adalah orang terdekatnya, segala yang menyangkut ayahnya dalah hal besar dalam hidupnya.  Alyssa jadi enggan meninggalkan Rio.
Alyssa mengangguk.
“Maaf yo… gue… gu gue…”
“Kenapa lo nggak tolongin ayah gue Al? Kenapa?”
“Yo, maaf. Gue juga takut yo”
“Siapa pembunuhnya Al? Siapa ketiga orang itu? Bilang ke gue Al!”
“Gue nggak tahu yo, gue nggak kenal mereka.”, Alyssa mulai takut pada Rio yang semakin emosi.
“Gue yang telfon polisi buat  mengevakuasi jenazah ayah lo.  Hanya itu yang bisa gue lakuin. Maaf. Sekarang sebaiknya kita pulang.”, Alyssa menarik bahu Rio.
“Jangan sentuh gue Al!”
“Yo…”
“Atau jangan-jangan lo pembunuhnya Al?”, Rio menatap tajam gadis di depannya.
“Apa? Nggak mungkin yo!”
“Kenapa lo bisa sepagi ini disini hah?”
“Yo, denger. Gue nggak sengaja kesini, dan kebetulan sekali gue menyaksikan semua itu. Gue Cuma pengen jalan-jalan awalnya.”
“Alah… nggak usah alesan deh! Lo mengarang semua cerita itu, biar nggak ketahuan kan? Tiga pria itu orang suruhan lo kan?”
                “Yo, dengerin gue! Gue panggil lo kesini buat bantuin gue nemuin siapa pelaku pembunuhan itu. Ngerti? Gue nggak mau kehilangan papa gue yo.”
“Sedangkan gue sudah kehilangan ayah gue Al!”
“Maaf yo… Gue emang nggak bisa apa-apa yo”
                Rio langsung menaiki motornya dan meninggalkan Alyssa begitu saja. Emosinya meluap-luap.
                “Yo! Rio!”, Alyssa berusaha menghentikan Rio. Tiba-tiba bahunya ditepuk oleh tangan yang kokoh. Alyssa menoleh, wajahnya sudah pucat pasi sekarang.

 ***

2 komentar:

De Ra mengatakan...

yeayy! Keren kak :D
Menegangkan ._. Mungkin part-part selanjutnya akan lebih menegangkan lagi, ayo kak post lagi hihihi

Atikazu mengatakan...

Hey, thankyou :)
Sudah aku post ya part selanjutnya. Happy reading. Cheers!