Ini cerita baru dari saya. Semoga banyak yang suka. Terutama RFM dan ICL semua. Cheers!
Title: the Hardest Raid
Genre: Romantic, Action.
BAM! Bruk..
DOORR!!
DOOOR!!
“Cepat! Buang mayatnya si brengsek
ini ke danau!”
Deg
deg deg, detak jantung Alyssa berdegup begitu cepat. Ia segera
bersembunyi di balik semak. Tiga pria berbadan kekar dengan jas hitam sedang
membuang mayat seseorang ke danau di depan sana. Jika mereka tahu keberadaan
Alyssa, pastilah ia akan ikut dibunuh juga. Karena ia telah menjadi saksi aksi
pembunuhan tersebut. Sebaiknya ia diam disana sampai ketiga pria yang 10 meter
di depannya itu pergi. Tapi tunggu! Sepertinya Alyssa kenal mayat itu.
Alyssa memicing mencoba
menyesuaikan pandangannya di kegelapan pagi ini. Sepertinya ia kenal, sungguh
tidak asing lagi. Seperti om Riko. Ada tanda hitam besar di kening kiri mayat
itu.
“Itu kan om Riko. Benar om Riko. Ya
Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi?”, Alyssa merosot di balik semak. Om Riko
adalah sahabat sekaligus rekan kerja sang papa yang sudah sangat dekat
dengannya. Bahkan keluarga mereka sudah dekat seperti saudara. Dan pemandangan
di depannya sekarang ini benar-benar menyedihkan.
“Cepat! Kita tidak boleh ketahuan.
Ingat jangan meninggalkan jejak sedikitpun!”, Kata sang boss yang kemudian
berjalan meninggalkan dua anak buahnya. Mereka terlihat professional dalam hal
ini.
“Gue seneng banget pekerjaan ini,
memacu adrenalin banget! Apalagi orang-orang di list yang harus kita bunuh
adalah orang-orang besar.” Satu dari sang anak buah itu memulai.
“Iya, ternyata bodyguard yang
mereka sewa mahal itu masih kalah dengan kita. Seharusnya kita dapat bayar
lebih dari boss. Iya kan?”, seorang lainnya menimpali.
“Ya, tentu saja. Aku tidak sabar
menyelesaikan tugas ini, ini keren bro!”
“Betul! Apalagi besok kita harus
menyelesaikan riwayat hidup seorang Kiki Umari. Lo tahu kan siapa dia? Ini bakal
keren”, Alyssa tercekat. Kiki Umari? Itu kan ayahnya. Jadi, orang-orang itu
juga akan membunuh ayahnya? Alyssa ingin pergi kesana dan menghabisi dua orang
itu, tapi ia urungkan niatnya. Danau ini masih sepi sekali. Ini pukul 2 pagi,
dan ia tidak mungkin bisa melawan dua orang yang bisa menghabisi om Riko
sendirian.
“Bener banget!”
“Ayo cepat kita pergi, sebelum ada
yang mengetahui keberadaan kita!”
Kedua orang itu segera mengambil
langkah pergi. Alyssa benar-benar tidak mampu bernafas saat ini, apalagi
berdiri.
“Siapa orang itu? Kenapa ia tega
membunuh om Riko dan akan membunuh papa?”, Alyssa menangis dalam diam.
Setelah kepergian orang-orang
tadi Alyssa segera pergi meninggalkan
tempat itu.
***
Drrrtt… Drrrtt…
“Errggh..”, Rio menggeliat dari tidurnya.
2:30 am. Siapa yang menelfon sepagi ini?
Alyssa? Rio mengangkatnya dengan
malas.
“Hallo? Ngapain lo? Ini masih
setengah 3 pagi. Tidur sana! Kangen lo sama gue sampai telfon sepagi ini?”, Rio
mendecak kesal pada Alyssa.
Bukannya menjawab Alyssa malah
sesenggukan di seberang sana. Rio heran sendiri dengan gadis ini. “ Lo kenapa
Al?”
“Pergi ke kamar ayah sekarang!”
“Hah? Ngapain? Gue ngantuk Al.
Kenapa nggak telfon langsung ke ayah sih?”
“SEKARANG!”
“Lo gila ya? Bisa budek nih telinga
gue. Iya iya, bawel”, Rio berjalan ke kamar sebelah dengan sedikit mendumel.
Ayahnya tidak ada di kamar.
“Ayah nggak ada Al, mungkin lembur
di kantor. Kenap……”
“Temuin gue di Taman Edelweis
sekarang. Di bangku sebelah utara dekat sungai”
Tuutt… tuuut.. tuuuttt… sambungan
diputus begitu saja oleh Alyssa.
“Eh? Apa? Halo Al? Al??”, Rio
menatap handphone nya penuh kebingungan.
“Cewek gila! Ini jam 2 pagi dan dia
ada di luar? Bener-bener gila”
Rio segera bangkit dari kasur,
mengambil jaket dan kunci motor. Mencari keberadaan gadis yang ia anggap gila
itu. Takut jika terjadi sesuatu dengannya.
***
Rio memarkir motornya di dekat
bangku yang dimaksud Alyssa. Gadis itu berdiri di dekat sungai, memeluk
tubuhnya sendiri. Malam ini memang begitu dingin. Jelas saja ia kedinginan,
Alyssa hanya memakai kaos lengan pendek dan celana skate favoritnya.
“Lo gila hah?! Bangunin gue jam
segini Cuma buat jemput lo disini?”, Alyssa bergeming.
“Ini masih pagi buta Al, lo nggak
liat? Ngapain sih lo sepagi ini kesini? Lo itu cewek. Kalau lo kenapa-kenapa
gimana? Hah?! Pikir dong”
Gadis
itu tetap bergeming. Rio mencoba mendekatinya, Alyssa sedang melamun tetapi
menitikan air mata. Rio semakin bingung.
“Al, lo
kenapa?”, Alyssa menoleh sebentar pada Rio.
Pandangannya kembali lurus ke depan.
“Al, lo
jangan bikin gue tambah takut deh. Ada apa?”, Rio melembut.
“Ayah lo dibunuh yo, dan target
selanjutnya adalah papa gue”
1 detik….
2 detik….
3 detik….
4 detik….
5 detik….
“Lo nggak lagi bercanda kan Al?”
“Apa gue kelihatan lagi bercanda?”
“Tap.. tapi …”
“Lo sudah lihat sendiri ayah nggak
ada di kamar kan?”
“Bisa saja kan ayah sedang lem…”
“Kalau lo nggak percaya sama gue
nggak apa-apa. Tapi gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, ayah lo ditembak
mati dan dibuang ke danau oleh 3 orang pria.”
“Nggak mungkin Al…”
“Gue akan buktikan ke elo. Ayo ikut
gue!”
Alyssa menarik Rio ke motornya, dan
membonceng Rio yang masih bingung menuju danau.
Ketika sampai di danau, sudah
banyak polisi yang menggerombol dan mengangkat mayat seorang pria dengan blazer
hitam dari dasar danau. Lalu memasukannya ke kantong jenazah. Suara sirine
ambulans dan mobil polisi bergema. Alyssa dan Rio berdiri sedikit jauh
mengamati para polisi itu bekerja. Rio menatap tajam pada mayat itu, jelas
sudah itu benar-benar ayahnya, Riko.
“Dan target selanjutnya papa gue.”,
Alyssa menoleh kepada Rio.
“Gue turut berduka cita yo, Om Riko
itu juga sudah seperti ayah gue sendiri. Gue sangat menyesal karena nggak bisa
nolongin beliau, padahal gue ada di sana. Maaf yo, tapi gue juga takut kalau
gue dibunuh oleh orang-orang itu. Maaf, kalau gue sudah bangunin lo sepagi ini.
Maaf, gue harus pergi. Gue nggak mau papa gue jadi korban berikutnya. Gue harus
sebisa mungkin mencegahnya.”
“Lo serius Al?” Rio mulai menangis.
Ayahnya adalah orang terdekatnya, segala yang menyangkut ayahnya dalah hal
besar dalam hidupnya. Alyssa jadi enggan
meninggalkan Rio.
Alyssa mengangguk.
“Maaf yo… gue… gu gue…”
“Kenapa lo nggak tolongin ayah gue
Al? Kenapa?”
“Yo, maaf. Gue juga takut yo”
“Siapa pembunuhnya Al? Siapa ketiga
orang itu? Bilang ke gue Al!”
“Gue nggak tahu yo, gue nggak kenal
mereka.”, Alyssa mulai takut pada Rio yang semakin emosi.
“Gue yang telfon polisi buat mengevakuasi jenazah ayah lo. Hanya itu yang bisa gue lakuin. Maaf. Sekarang
sebaiknya kita pulang.”, Alyssa menarik bahu Rio.
“Jangan sentuh gue Al!”
“Yo…”
“Atau jangan-jangan lo pembunuhnya
Al?”, Rio menatap tajam gadis di depannya.
“Apa? Nggak mungkin yo!”
“Kenapa lo bisa sepagi ini disini
hah?”
“Yo, denger. Gue nggak sengaja
kesini, dan kebetulan sekali gue menyaksikan semua itu. Gue Cuma pengen
jalan-jalan awalnya.”
“Alah… nggak usah alesan deh! Lo
mengarang semua cerita itu, biar nggak ketahuan kan? Tiga pria itu orang
suruhan lo kan?”
“Yo,
dengerin gue! Gue panggil lo kesini buat bantuin gue nemuin siapa pelaku
pembunuhan itu. Ngerti? Gue nggak mau kehilangan papa gue yo.”
“Sedangkan gue sudah kehilangan
ayah gue Al!”
“Maaf yo… Gue emang nggak bisa
apa-apa yo”
Rio
langsung menaiki motornya dan meninggalkan Alyssa begitu saja. Emosinya
meluap-luap.
“Yo!
Rio!”, Alyssa berusaha menghentikan Rio. Tiba-tiba bahunya ditepuk oleh tangan
yang kokoh. Alyssa menoleh, wajahnya sudah pucat pasi sekarang.
***

2 komentar:
yeayy! Keren kak :D
Menegangkan ._. Mungkin part-part selanjutnya akan lebih menegangkan lagi, ayo kak post lagi hihihi
Hey, thankyou :)
Sudah aku post ya part selanjutnya. Happy reading. Cheers!
Posting Komentar