Libur lagi, harus main lagi dong :D Backpack ready? cabut !!!
Libur Iedul Adha 1433H, karena rumah digunakan sebagai tempat penyembelihan dan pembagian daging, mendingan saya kabur untuk senang-senang terbebas dari darah dan daging yang identik di Tahun Baru Haji.
Libur Iedul Adha 1433H, karena rumah digunakan sebagai tempat penyembelihan dan pembagian daging, mendingan saya kabur untuk senang-senang terbebas dari darah dan daging yang identik di Tahun Baru Haji.
Kali ini saya berangkat bersama Wuri, tempat tujuan di wisata Air Terjun di desa Kepel, Kab. Madiun. Letak nya di ketinggian perbukitan yang menciptakan hawa seju menarik saya untuk menikmatinya.
Selesai menjalankan sholat Ied di sekolah, saya dan Wuri langsung berangkat menuju ke arah Timur kota Madiun. Jalan menanjak menjadi tantangan tersendiri bagi saya, karena memang motor yang saya gunakan belum pernah digunakan untuk melalui jalur menanjak.
Saat di perjalanan menuju Air Terjun, saya melewati sebuah wana wisata yang cukup terkenal di Madiun. "Grape Ria", dengan sungai yang jernih dengan batu-batu besar menjadi daya tarik di sini. Grape, mungkin anda menganggap tempat ini adalah kebun Anggur, namun anda salah wana wisata yang terletak kurang lebih 15 KM dari kota madiun meyuguhkan udaranya yang sejuk dan pohon pohonnya yang hijau serta air sungainya yang jernih alami.
Saat di perjalanan menuju Air Terjun, saya melewati sebuah wana wisata yang cukup terkenal di Madiun. "Grape Ria", dengan sungai yang jernih dengan batu-batu besar menjadi daya tarik di sini. Grape, mungkin anda menganggap tempat ini adalah kebun Anggur, namun anda salah wana wisata yang terletak kurang lebih 15 KM dari kota madiun meyuguhkan udaranya yang sejuk dan pohon pohonnya yang hijau serta air sungainya yang jernih alami.
Dari Grape naik sedikit, beberapa kilometer saya sudah tiba di PLTA Golang. Dari PLTA Golang menuju ke tempat parkir air terjun tidak terlalu jauh.
Setelah terlihat papan penunjuk arah menuju air terjun, saya membelokan motor menuju tempat parkir. Jalan yang dilalui memang tergolong curam, jalan menurun menuju tempat parkir terbilang cukup menakutkan bagi pengendara yang belum terbiasa, jujur saya juga sedikit agak ngeri.
Setelah membayar uang parkir dan htm masuk Rp. 1000/ orang , saya dan Wuri turun menyusuri jalan setapak dari semen yang curam. Sayangnya jalan setapak ini belum di beri pengaman di kanan-kirinya, jalan yang dibuat pun masih rawan dan curam, sehingga saat mengajak anak-anak diperlukan perhatian khusus.
15 menit berjalan kaki menuruni tanjakan dari tempat parkir, akhirnya saya menemukan sungai dengan batu-batu besar dengan beberapa gua alami di sekitarnya. Untuk menuju ke air terjun, kita harus menyebrang sungai tersebut. Namun, sayang jembatan yang dibuat belum jadi, baru 40% mungkin atau hanya baru pondasinya saja.
Bahkan hari pada hari minggu nanti kami berencana mengunjungi wisata air terjun ini lagi, atau mugkin akan berbackpacker ria menelusuri Indonesia? I Don,t know what would happen later.

See you on my next vacation :D






Tidak ada komentar:
Posting Komentar