Rock vs Kolintang
“Kakaaaaaaak.. tunggu !!” teriak Acha setengah berlari menyusul sang kakak Rio. Rio menoleh sebentar, lalu melanjutkan langkahnya menyusuri koridor sekolah. Acha menggerutu, menyebalkan sekali kak Rio ini, Acha terus mempercepat langkahnya mengejar Rio.
“Kak Rio.. kok Acha ditinggal sih ? Buru-buru banget, emang kakak mau kemana ?” Tanya Acha sampai di parkiran tempat kakaknya menunggu. Rio hanya melirik sebentar, lalu mengkodekan Acha untuk naik ke motornya., dan menjalankan motornya. Rio menlajukan motornya semakin cepat, sepertinya memang sedang terburu-buru.
Brrrrmm… Rio sudah sampai di depan rumahnya, Acha segera turun. “Mau kemana lagi sih kak ? “, Tanya Acha heran kepada kakaknya. Rio tersenyum.
“Mau latihan band cha, kenapa ?” Acha menatap kakaknya,
“Band? Band Rock kakak yang gak jelas itu ? Iihh..” Acha mencibir.
“Kenapa ? Itu keren tau cha, gak seperti grup music kamu itu. Hahaha..” , Jawab Rio sengak dan tertawa terbahak-bahak. Acha memajukan bibirnya.
“Kakak tau nggak ? Kolintang itu salah satu budaya Indonesia yang wajib dilestarikan, kalo seperti Band Rock kakak itu, adalah budaya barat yang masuk ke Indonesia, nah.. kita sebagai bangsa Indonesia juga harus bisa menduniakan budaya sendiri dong !! Gak Cuma ngikutin budaya barat aja.. bener nggak ?”, kata Acha bijak, Kakaknya hanya tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Lucu juga adiknya ini, budaya Indonesia seperti Kolintang itu kan budaya yang jadul banget, gak ada kerennya.
“Kakak pasti bakal menyesali ucapan kakak, dan kakak pasti akan lebih menyukai Kolintang daripada band rock kakak ! Acha bakal buktiin “. Acha menggebu-gebu, membuat Rio semakin keras tertawa.
“Sok, bijak kamu Cha.. Haha..” Jawab Rio tersenyum meremehkan sambil mengacak-acak rambut Acha. “Udah, kakak mau jalan dulu. Bilang sama mama, kakak pulang agak sore”,sambungRio.
“Liat aja kak ! Acha bakal buktiin omongan Acha” Ucap Acha, lalu menjulurkan lidahnya. Rio masih juga tersenyum meremehkan, dengan tatapan menantang, seolah-olah berkata ‘Coba kalau kamu bisa!’. Acha hanya tersenyum, lalu masuk ke Rumahnya.
Acha menghempaskan tubuhnya di sofa, Ayah mungkin belum pulang. Jam di dinding sudah menunjukan pukul 3, ia harus segera bersiap untuk latihan Kolintang di sanggar budaya Dewi Sinta pukul 4 nanti. Kemudian ia berlari ke Kamarnya. Tepat pukul 15.35 ia telah siap dan menuruni tangga, saat telefon rumahnya bordering. Acha berlari mengangkatnya.
“Hallo ? Dengan kediaman keluarga Anton Wirajaya..” Sapa Acha, sang lawan bicara mebalas sapaan Acha dan beberapa kalimat berita. Acha tertegun. Setelah mengucapkan terimakasih, Acha berteriak histeris memanggil mamanya. “MAMAAAAAAAAA….!!”.
Bu Anton segera turun, dan melihat anaknya menangis dilantai. Entah apa yang terjadi, Bu Anton mengangkat Acha untuk duduk di sofa, memberikan segelas air putih, dan mulai menanyakan apa yang terjadi. Tangis Acha semakin menjadi saat menceritakan perihal berita ditelfon tadi.
“Mamaaa.. kak Rio ma, kak Rio kecelakaan, Studio bandnya terbakar ma, kita harus ke Rumah Sakit sekarang !!” Acha beranjak. Air mata Bu Anton mulai menetes, tak kalah kalut dengan Acha, ia berteriak memanggil pak Karjo, seorang supir keluarganya. Pak Karjo segera menyiapkan kendaraan untuk Bu Anton dan Acha, mereka lalu melesat pergi ke sebuah Rumah Sakit.
Setibanya di Rumah Sakit Bu Anton bertanya pada seorang suster penjaga resepsionis, dimana Rio berada. Rio masih terbaring di UGD dengan luka bakar di kakinya, yang tergolong cukup parah. Seringkali ia meringis kesakitan, setengah sadar ia melihat bayangan Adik dan Ibunya dating. Sedikit perasaan lega menghapuskan rasa khawatir hatinya.
Dokter menyarankan untuk mengamputasi kaki sebelah kanan Rio, tentu berita tersebut sangat mengejutkan. Acha sampai terjatuh pingsan mendengar kabar tersebut. Apalagi Rio, kalau kakinya diamputasi, bagaimana dia kan bermain drum lagi ? Bagaimana dia akan meneruskan karir di band nya ? Ah, sudahlah.. ini semua juga karena dia mengikuti latihan Band. Rio menyesal, mengapa tidak mendengarkan kata – kata adiknya.
Tiga hari setelah operasi amputasi, Rio sudah dibolehkan untuk pulang, bahkan papanya mengambil cuti satu minggu untuk menemani Rio di rumah. Rio masih belum bisa banyak bergerak, rasa sakit dan rasa penyesalan, bercampur rasa malu membuatnya enggan untuk pergi keluar. Untuk hanya sekedar bangun dari posisi tidurnya pun rasanya enggan.
Acha masuk ke kamar Rio, melihat kondisi kakaknya yang seperti ini, membuat Acha iba, dan tergerak untuk memberikan semangat pada kakaknya. Rio menerawang ke arah jendela, matanya berkaca-kaca, tak jelas bagaimana perasaan dihatinya saat ini. Keheningan itu terpecahkan oleh panggilan lembut suara Acha.
“Kaaak.. Kak Rio..” Acha berkaca- kaca, tak tega dengan kondisi kakaknya, namun ia harus kuat. Kakaknya butuh penyemangat, ya Acha harus bisa.
Rio menoleh ke arah Acha, senyumnya mengembang. Adik semata wayangnya masih mau mengakuinya sebagai kakak, setidaknya itu sebuah harapan bagi Rio. Acha meraih tangan kakaknya. Kaki Kanan Rio hanya diamputasi sampai lutut saja, setidaknya, ia masih bisa bangkit dari tidurnya. Semangatnya muncul saat ia menatap adiknya, ia terduduk di atas ranjangnya. Acha tersenyum senang, tidak sia-sia batinnya.
Sore ini kebetulan latihan Kolintang diliburkan. Acha mengajak Rio untuk berjalan- jalan di taman komplek. Rio masih belajar menggunakan penyangga yang diberikan papanya untuk berjalan. Sudah 3 hari ini Rio berlatih, dan sudah sukup mahir untuk berjalan. Acha dengan senang hati menuntun Rio, lalu duduk di bangku taman.
Seberkas semangat untuk hidup Rio dpatkan dari Acha, ia tak pernah malu lagi dengan kekurangannya. Bahkan, ia sekarang mengikuti jejak Acha untuk bermain Kolintang. Kaki kanannya yang diamputasi membuat dia tak dapat lagi bermain drum, bahkan teman-temannya pun ikut menghindar. Sepertinya, mereka sudah mendapat pengganti Rio. Ia tak ambil Pusing. Biarkan saja, hidupnya pasti akan lebih indah, dia percaya akan itu. Aku pasti bisa, itu yang selalu ditancapkan dihatinya.
“Cha..” Panggil Rio, Acha yang sedang menikmati Es Krimnya menengok. “Hmm..?” Jawab Acha singkat, mulutnya penuh dengan Es Krim . Rio tersenyum gemas.
“Kakak boleh minta tolong nggak ?” Rio menerawang. Acha menatap kakaknya heran.
“Ha? Minta tolong apa kak ? ngomong aja”, Acha menghapus sisa Es Krim di sisi kiri bibirnya dengan jempol, lalu menghisapnya. Seperti anak kecil, padahal usianya sudah cukup dewasa. Lagi- lagi Rio tersenyum gemas. Di cubitnya pipi Acha. Acha mengerang. Tapi tetap diam, masih menikmati Es Krim Vanilla-nya. Tak mendengar ada jawaban dari Rio, Acha menoleh. Tepat saat Es Krimnya habis. Rio menitikan air mata, Acha bingung.
“Kak, kenapa nangis ?” Rio segera menghapus air matanya, tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia mengelus pelan rambut Acha.
“Kakak, mau berterima kasih sama kamu cha, kerena kamu kakak gak malu lagi hidup tanpa satu kaki, kakak jadi lebih percaya diri saat kamu mengenalkan kakak pada kolintang dan teman-teman kamu di sanggar yang menerima kakak apa adanya. Gak seperti teman-teman kakak. Mereka pergi begitu saja..” Acha diam mendengarkan, membiarkan kakaknya mengungkapkan segala perasaannya.
“Kakak, tarik semua ucapan kakak dulu Cha… Kamu benar, Kolintang itu lebih baik daripada music Rock yang membuat kakak lumpuh seperti ini… Yang membuat kakak kehilangan kepercayaan diri, yang dibangkitkan lagi oleh kamu, dan teman-temanmu Cha.. Makasih..” Ucap Rio tersedu, ia juga tidak tahu kenapa ia menjadi selemah ini, Dia seorang kakak, tapi justru merasa seperti adik kecil yang harus dibimbing oleh Acha sebagai kakaknya.
Acha tersenyum menenangkan, namun tetap saja air matanya jatuh menetes. Tak mampu berkata- kata lagi, dipeluknya sang kakak.
“Kak Rio gak boleh gitu… Kak Rio harus tetap semangat, apapun yang terjadi kakak gak boleh menyesal. Semua ini sudah diatur. Ingat kak, walaupun kakak kehilangan teman-teman kakak, masih ada Acha, Papa, Mama, dan Tuhan”, Sela Acha di tengah tangisnya.
“Oh, iyaa… kakak mau minta tolong apa ?” Tanya Acha tersenyum melepaskan pelukannya. Rio tersenyum jahil, dia tahu adiknya ini masih penasaran.
“Kakak cuma mau minta tolong, kamu jangan pernah menyerah seperti kakak ya !! Kamu dan Grup Kolintang kamu harus berjuang untuk menduniakan budaya Indonesia, seperti kata kamu, kakak juga akan mendukung hal yang udah kakak remehkan itu…” Rio menunduk menyesali sikapnya dulu. Ia takut Acha akan marah mengingat sikapnya dulu..
“Pasti kak ! Acha janji.” Tidak disangka Rio, adiknya masih setia pada janjinya dulu, untuk membuktikan kata-katanya.
Hari ini latihan terakhir Kolintang di sanggar tempat Acha berlatih, sebelum lomba Festival Budaya dimulai di Jakarta 3 hari lagi. Esok Acha dan yang lain akan segera berangkat untuk berlomba Di Jakarta. Rio tersenyum dari kejauhan, semangat adiknya membuatnya kagum. Bahkan adiknya telah mampu menularkan semangat kepadanya.
Hari ini telah tiba, peserta dari seluruh penjuru Indonesia berkumpul di Jakarta Covention Center (JCC). Ada berbagai jenis budaya Indonesia yang di ikut sertakan dari tiap-tiap Provinsi. Namun, hanya 3 yang akan dipilih untuk mewakili Indonesia di ajang budaya Dunia yang diselenggarakan di Singapore Convention Centre.
Acha jadi sedikit minder, namun perasaan itu segera ditepisnya, Ia harus bisa. Tak la, giliran Acha dan kawan- kawan. Mereka memainkan lagu dari Sind3ntosca berjudul ‘Kepompong’, lagu tentang persahabatan mereka. Do… Sol Fa.. Mi Re.. Do Mi Re Do..
Seorang juri dengan setelan jas hitam menaiki panggung, tangannya membawa sebuah map berwarna merah yang tidak terlalu tebal, senyum kecil membuatnya tampak lebih gagah, beliau segera meraih microfon di depannya. Dan tersenyum kembali.
“Baik, sekarang adalah saat yang ditunggu – tunggu, dimana saya selaku perwakilan juri dalam perlombaan ini, akan mengumukan… siapa yang berhasil menjadi pemenang pada lomba Festival Buda Lima tahunan ini..” Jelasnya, lantas mulai membuka map merah ditangannya,
“Seperti yang sudah kita lihat, semua peserta sudah menunjukkan performance terbaik mereka masing – masing, dan dewan juri sudah memutuskan…. Dengan bangga, saya umumkan, bahwa pemenang tersebut adalah……”Lanjutnya.
“Grup Musik Karawitan dari Sanggar Seni Budaya Jawi Wetan, Grup Tari Kecak dari Sanggar Budaya Provinsi Bali, daaaaaan… Grup Musik Kolintang dari Sanggar Budaya Dewi Sinta…Selamat kepada kalian, kalian berhak untuk mendapatkan tiket tampil di Festival of World Cultures Di Singapore Convention Centre !” Acha tersenyum puas, dan mengacungkan dua jempol kepada kakaknya yang ada di barisan kursi penonton.. Senyum Rio mengembang, bangga pada adiknya. Terima Kasih tuhan, hikmah dari semua ini telah terbuka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar